Thursday, November 9, 2017

day 7

Yogyakarta, Kamis, 9 November 2015

Bertanggung jawab vs merasa bersalah

Berbicara dengan anak umur 3 tahun yang notabene kemampuan verbalnya sedang tinggi-tingginya ini tantangan sekali ya. Banyak hal yang membuat saya sering berpikir: aiiih iya ya, kan saya yang kasih command begini ke dia, kalau sekarang dia begini ke saya ya jangan heran dong ya...

Misalnya sore ini, saya bilang: Kak, tolongin ibun beberes legonya dong (dia tidak menengok, masih asyik main mobil-mobilannya). Kita kan mau ke klinik meriksain adek, sebelum kita pergi, kita bereskan dulu mainannya ya.

Dia jawab sambil tetap bermain: ibun aja

Ibun: yaaa kan kakak yang main
Kakak: kan ibun yang tuang to
Nah begini ini yang saya maksud. Duluuu beberapa kali pernah saya minta dia bersihkan makanan atau minuman yang tercecer. Atau juga membereskan mainan yang dia pakai dengan bahasa yang sama : kan kakak yang makan, kan kakak yang minum, kan kakak yang tuang mainannya (dari kardusnya). Berasa ngomong sama cermin ya,,,anak-anak tidak pernah salah mengcopy. Dan dari sini, saya mulai merasa  butuh untuk duduk menghadap dia, merendahkan badan, down on my knee, menatap matanya, senyum dan bicara dengan lembut: kakak sayang, boleh gak ibun minta tolong dibantu memasukkan lego ke wadahnya? Yuk kakak masukin ibun yang pegang plastiknya yaaa...

Dan dijawablah sama dia: mmm boleh ayok

Ah...i got it. Beda cara bicara, beda diksi, beda ekspresi, tanggapannya bisa drastis banget ya.

Kemarin malam, saya dan suami baru berdiskusi, kok kakak mulai agak menghindar dari kesalahan ya? Apa kita terlalu keras mendidik ya? Misalnya lantai basah, dia habis pegang gelas, trus kami nanya: siapa nih yang numpahin minum ayo bersihkan...dia bisa langsung jawab : adeeeek. Apa mungkin komunikasi kami yang kurang tepat ya?
Niatan kami adalah untuk menanamkan tanggungjawab, bahwa dia yang melakukan dialah yang harus bertanggungjawab, tetapi kok jatuhnya kayak dia merasa disalahkan dan efeknya jadi menghindar dari kesalahan. Yang kami khawatirkan jika lebih jauh lagi jadi bohong karena takut disalahkan...

Waini, harus ada yang dikoreksi. Mungkin dari cara penyampaian kami membuat dia merasa disalahkan dan merasa perlu mencari pembenaran biar tidak dimarahi atau tidak disuruh-suruh. Lalu dari sini kami bertekad untuk memperbaiki cara komunikasi, mumpung pas masuk materi komunikasi produktif juga nih. Mungkin kasus membereskan lego di atas bisa jadi alternatif solusi komunikasi yang bisa diterapkan terus menerus. Noted banget nih: jangan membuat anak merasa bersalah ya....dan perbaiki cara penyampaian komunikasi


No comments:

Post a Comment