Yogyakarta, Kamis, 9 November 2015
Bertanggung jawab vs merasa bersalah
Berbicara dengan anak umur 3 tahun yang notabene kemampuan
verbalnya sedang tinggi-tingginya ini tantangan sekali ya. Banyak hal yang
membuat saya sering berpikir: aiiih iya ya, kan saya yang kasih command begini
ke dia, kalau sekarang dia begini ke saya ya jangan heran dong ya...
Misalnya sore ini, saya bilang: Kak, tolongin ibun beberes
legonya dong (dia tidak menengok, masih asyik main mobil-mobilannya). Kita kan
mau ke klinik meriksain adek, sebelum kita pergi, kita bereskan dulu mainannya
ya.
Dia jawab sambil tetap bermain: ibun aja
Ibun: yaaa kan kakak yang main
Kakak: kan ibun yang tuang to
Nah begini ini yang saya maksud. Duluuu beberapa kali pernah
saya minta dia bersihkan makanan atau minuman yang tercecer. Atau juga
membereskan mainan yang dia pakai dengan bahasa yang sama : kan kakak yang
makan, kan kakak yang minum, kan kakak yang tuang mainannya (dari kardusnya). Berasa
ngomong sama cermin ya,,,anak-anak tidak pernah salah mengcopy. Dan dari sini,
saya mulai merasa butuh untuk duduk
menghadap dia, merendahkan badan, down on my knee, menatap matanya, senyum dan
bicara dengan lembut: kakak sayang, boleh gak ibun minta tolong dibantu
memasukkan lego ke wadahnya? Yuk kakak masukin ibun yang pegang plastiknya
yaaa...
Dan dijawablah sama dia: mmm boleh ayok
Ah...i got it. Beda cara bicara, beda diksi, beda ekspresi,
tanggapannya bisa drastis banget ya.
Kemarin malam, saya dan suami baru berdiskusi, kok kakak
mulai agak menghindar dari kesalahan ya? Apa kita terlalu keras mendidik ya? Misalnya
lantai basah, dia habis pegang gelas, trus kami nanya: siapa nih yang numpahin
minum ayo bersihkan...dia bisa langsung jawab : adeeeek. Apa mungkin komunikasi
kami yang kurang tepat ya?
Niatan kami adalah untuk menanamkan tanggungjawab, bahwa dia
yang melakukan dialah yang harus bertanggungjawab, tetapi kok jatuhnya kayak
dia merasa disalahkan dan efeknya jadi menghindar dari kesalahan. Yang kami
khawatirkan jika lebih jauh lagi jadi bohong karena takut disalahkan...
Waini, harus ada yang dikoreksi. Mungkin dari cara
penyampaian kami membuat dia merasa disalahkan dan merasa perlu mencari
pembenaran biar tidak dimarahi atau tidak disuruh-suruh. Lalu dari sini kami
bertekad untuk memperbaiki cara komunikasi, mumpung pas masuk materi komunikasi
produktif juga nih. Mungkin kasus membereskan lego di atas bisa jadi alternatif
solusi komunikasi yang bisa diterapkan terus menerus. Noted banget nih: jangan
membuat anak merasa bersalah ya....dan perbaiki cara penyampaian komunikasi
No comments:
Post a Comment