Yogyakarta, 2 November 2017
“komprod komprod”
Kata kata itu seolah selalu terdengar setiap kali udah
muntub-muntub sama si Kakak. Hari ini officially hari pertama tantangan
komunikasi produktif dijalankan, tetapi sudah sejak 2 hari yang lalu saya
berlatih. Wah, materi pertama di kelas bunda sayang ini memang sanget tepat
buat saya yang sedang berjuang untuk stop yelling sejak kelas matrikulasi.
Ingin sekali menghadirkan hari tanpa teriakan, tanpa amarah, tanpa ancaman,
tanpa paksaan, dan penuh canda gurau tawa bahagia....
Dimulai dari pagi yang damai, si kakak bangun dan minta
minum. Maunya minum sama ibun di kamar lanjut pipis pun sama ibun. Okay, clear
dan adek sama abi pun bisa damai. Kemudian tantangan pertama datang ketika adek
pakai kursi kecil dan kakak meminta dengan merebut, “ini kursi Haidaaaar” wah
kalau udah panjang gini intonasinya agak naik, udah tanda-tanda nih, batin saya
sambil terus mencuci piring. Kegiatan pagi memang selalu seperti ini, ibun
uprek di dapur biasanya dari jam 6 – jam 8 sementara anak-anak main sama abi.
Kejadian berebut kursi masih bisa dikomunikasikan dengan
baik oleh suami, saya memilih untuk diam dulu selama itu semua tertangani
dengan aman. Rupanya suami membaca adanya tanda-tanda si kakak pup, dan dengan
gaya anak bayiknya, Haidar datang ke dapur seraya bilang: “ibun, ini adek trus
ibun bilang adek mau eek gitu” ini sebenarnya bagian paling maleeees banget
kalau harus meladeni dia yang berpura-pura jadi adek. Tapi baiklah, komprod
komprod!! Singkat cerita, saya menanggapi permintaannya untuk bermain peran
dengan senyum terpaksa. Setelah sesi pup selesai, setidaknya saya nyicil ayem,
si kakak sudah pup dan itu akan mengurangi muka masam saya sehari itu karena
dia gak akan pup di celana (lagi).
Rencana komprod hari ini adalah sounding acara ibun hari
jumat untuk packing nasjum (berbagi nasi Jumat), dan memperbaiki kaidah
7-38-55.
Rencana dijalankan dengan memilih waktu yang tepat yaitu setelah mandi
ketika antri pakai baju. Kami biasa sambil ngobrol dan bernyanyi. Lhakok ya
langsung dapet tantangan dan gagal di teriakan. Waktu ibun siapin baju, sambil
melirik duo krucil yang sedang bercanda tertawa-tawa, ibun harus teriak liat
si kakak sedang nyikat “p” si adek pakai sikat gigi ibun yang tadi masih dibawa
adek dari kamar mandi. Kebayang kan, gimana kagetnya? Mereka biasa saya
mandikan dan saya gantikan baju bareng-bareng. Ini mungkin lebih karna malas
ribet dan memilih praktis biar barengan rampungnya.
Haidar 3,5 tahun dan Ayyubi
1 tahun 4 bulan. Setelah berteriak, lalu sadar komprod! Pelan-pelan sambil
membaluri tubuh haidar pakai minyak, saya jelaskan tentang aurat, lanjut
bernyanyi ‘sentuhan boleh sentuhan tidak boleh’. Semoga masuk, dan tidak
meninggalkan rasa penasaran/trauma karna teriakan...
Sounding acara nasjum pun gak semulus yang diharapkan. Timing-nya
sepertinya kurang tepat. Haidar sedang fokus dengan buku Mombi nya, dia biasa
menceritakan gambar versi dia sendiri. Saya pun lanjut bicara: “ Kak, besok
ibun mau ke Panti asuhan, mau berbagi nasi buat makan anak-anak panti, kakak
temenin ibun ya?” sampai di sini, dia masih tetap diam dan fokus melihat gambar
membuka halaman-halaman bukunya. “tapi sebelum bagi-bagi nasinya, kita akan ke
rumah Bunda Siwi dulu buat bungkus-bungkus nasi yang mau dibagi”.
Nah di
tengah-tengah bahasan ini, dia komentar, tapi justru komentarin gambar yang dia lihat,
bukan komentar kata-kata ibun. Kan gondok ya kayak dicuekin gitu aja...ibun
menanggapi kata-kata kakak dengan kesal dan justru mengalihkan pembicaraan. "Ibun
lagi bicara lho, kalau haidar gak mau mendengar, ibun cerita sama adek aja". Dia
masih lanjut cerita dong dan saya pun lanjut bicara sama adeknya dan seperti
ada 3 anak bayik di kamar itu...olalaaaa...ibun belum selesai dengan egosentris
diri sendiri ini.
Setelah diam sejenak, lalu ibun menimpali, “Haidar, ibun mau
bicara boleh?”, “ya boleh” jawabnya. “ibun besok mau ada acara ke rumah Bunda Siwi, mau bungkus-bungkus nasi trus nasinya mau dikirim ke panti asuhan, Haidar
mau ya temenin ibun? tapi Haidar sama adek janji ya, kooperatif ketika ibun
bungkus-bungkus nasi. Main sendiri ya?!” “oh Haidar mau bantu ibun, Haidar bisa
kok bungkus-bungkus nasi. Nanti Haidar ambil pakai piring trus dikasih deh
mamamnya.”
Yess, berhasil nih menurunkan suara, ternyata Cuma butuh semacam
jeda aja ya buat atur emosi. Dan jawaban si kakak pun bikin nyeeessss... Alhamdulillah, lanjuuut.
Tantangan komprod hari ini cukup banyak, yang kecil-kecil
bisa diatasi dengan eye contact, mendatangi ketika jarak ibun sudah lebih dari
3 meter dari kakak, bicara lembut, bicara pendek dan simpel, mengatakan apa
yang kita inginkan bukan yang tidak kita inginkan, tetapi senjata ampuh menahan
diri agar tidak marah hari ini adalah : diam sejenak. Ini lumayan bisa membantu
untuk tidak berteriak atau mengeluarkan kata tidak produktif. Tetapi masih
sering keceplosan dengan kalimat ancaman terutama ketika kakak dorong adeknya
atau rebutan.
Ah sungguh benar, anak-anak ini tidak pernah salah meng-copy, pola
komunikasi Haidar yang banyak melarang adeknya ini sepertinya saya banget.”adek
adek adeeeeek, stop stop stop jangan ke sana nanti basah lhoooo”. "Adeeeek ndak mau masuk ni? ndak mau? Haidar tutup lhoo pintunya." Baiklah memang
harus dilakukan berulang-ulang. Yuk mari, apresiasi hari ini dengan
alhamdulillah dan persiapkan hari esok dengan bismillah...semoga allah
mampukan. Aamiiin.
#harike1
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip
#bunsayjoglo
#bundasayangbatch3
#bundasayangjoglo
#bundasayangkoordinator
#ibuprofesional
#ibuprofesionaljogja
#henyratriestiningtyas
No comments:
Post a Comment