Friday, November 24, 2017

Aliran rasa game level 1 komunikasi produktif kelas bunda sayang


Aliran rasa
Kelas bunda sayang Joglo
Fasil: Ika Pratidina
By: Heny Ratri Estiningtyas
IIP Jogja

Bicara tak sekedar berkata-kata, tetapi juga berbahasa

Kelas bunda sayang area Joglo dimulai bulan November 2017,bertepatan dengan pembahasan CoC daerah IIP Jogja. Ini lumayan bikin saya sepet mata. Karena terkena badai chatt yg luar biasa. 2 grup bisa ratusan chattnya dalam sehari. Saya sampai membutuhkan waktu 10 jam sehari utk membaca dan mengikuti arus chattnya. Untungnya waktu itu, sy sedang mudik, jadi bs sedikit melemaskan otot tangan lepas dr aktivitas domestik dan sedikit bs memberi ruang utk anak2 bonding dengan kakung utinya.

Selepas pembahasan CoC dan diskusi aturan main di kelas bunsay, chatting menjadi agak longgar dan saya mulai bisa mengelola waktu walau masih belum bs sepenuhnya total, karna jam online kelas yang tidak tepat sama dengan jam online saya. But it's ok, karna dalam kelas online, tidak menuntut kedatangan setiap waktu pelajaran. Asalkan bisa mengikuti perkuliahan dan bs menjalani rules dengan baik, tidak jd masalah. Jadilah banyak begadang untuk mengunyah materi atau kadang jg buka materi di hari berikutnya.

Materi pertama tentang komunikasi produktif, banyak hal yg sudah saya lakukan tapi dengan adanya materi ini, jadi lebih paham lebih mengerti dan tau baiknya bagaimana. Menjadi lebih paham bahwa dalam berbicara kita tak sekedar menyampaikan informasi saja, tetapi kita juga berbahasa, dengan bahasa tubuh, bahasa cinta dan bahasa hati lewat tatapan mata. Setelah mempelajari materi, maka lanjut dengan game level 1 namanya. Kita diminta melakukan praktik komunikasi produktif dengan partner. Nah partner ini kita yang milih di awal penentuan komprod. Saya memilih anak pertama saya yg umurnya 3,5tahun, namanya Haidar. Memilih Haidar sbg objek komprod karna interaksi saya intensif dengan Haidar, bs kapan saja dimana saja dan tentang apa saja. Akan banyak yang bisa diasah di sini. Dan ternyata memang benar, saya praktek komprod every single time! Bahkan target komprod yang ingin dicapai pun sampai terkesampingkan karna tantangan komprodnya buanyak sekali yang pada akhirnya tema bahasan jadi bisa diarahkan ke target komprod tetapi beda sub tema.

Dan qodarullaah ada kejadian besar di akhir periode pembelajaran ini, Haidar mengalami kecelakaan yAng mengharuskan dia untuk dibawa ke faskes dan diambil tindakan oleh nakes dan juga harus minum obat. Ini komprod sangat membantu menenangkan anak dan mengendalikan anger management ibunya. Hehehe
Ya selain memperbaiki cara saya berkomunikasi dengan anak, komprod membantu saya memperbaiki anger management. Walau kadang masih keceplosan tapi manage emosi setelahnya bs lbh mudah dilakukan. Rasanya ada yang selalu meneriakkan: hey komprod komprod! Setiap kali keceplosan menyuruh, memaksa, mengancam atau bahkan marah.

Tantangan terbesar dan terberat adalah mendokumentasikan. Entah dalam bentuk foto, video maupun tulisan. Dalam 10 hari tantangan komprod ini saya masih belum menemukan ritme yang pas utk mendokumentasikan proses komprod. Terutama menulis. Menuliskan hasil komprod sangat mudah jika tidak loncat hari karna lbh mudah mengingat apa yang terjadi dan akan dituliskan. Lebih mudah lagi klo dokumentasi berupa video atau voice record. Bisa saja mengandalkan ingatan, tp harus detail agar pembaca juga lbh lengkap mendapat cerita. tetapi, untuk menulis gak lompat hari ini bagi saya tantangan besar, ini lebih karena manajemen waktu yang kurang pas aja sih. memang seharusnya disediain waktu khusus untuk menulis. waktu yang pas itu bisa disesuaikan dengan kondisi sehari-hari, tiap orang pasti beda-beda. kalau saya prefer malam sebelum tidur, tapi seringnya ikut ketiduran waktu nidurin anak, makanya jadi sering rapel/ loncat hari.

Tetapi setelah mengikuti kelas ini, saya menjadi lebih lemes dalam menulis. Blog saya pun menjadi bangun dari mati suri nya. Dengan saya mempost beberapa hasil komprod, teman2 saya di sosmed jadi bisa membaca pengalaman komprod saya dan beberapa ada yang menyampaikan bahwa ia mendapat inspirasi dengan membaca postingan saya. Dengan begitu saya merasa sedikit bisa berbagi hikmah.

Berikut ini mungkin beberapa tips yang bisa diterapkan untuk persiapan mengikuti kelas bunda sayang materi pertama:
1. Luruskan niat
2. Ijin suami. Terkait hal ini jangan cuma ijin soal boleh enggaknya utk ikit kelas, tp juga wajib disampaikan kemungkinannya untuk lebih sering pegang hape daripada sebelumnya. Mungkin lebih sering begadang atau memanfaatkan bbrp waktu utk membaca materi/mengerjakan pelaporan. Selain menyampaikan konsekuensinya sampaikan juga benefit nya. Kalau saya, materi, game rules, camilan gitu saya forward ke suami. Jd suami tau apa yang sedang kita pelajari. Kalau target komprodnya suami, bs kasih gambaran ke suami. Klo target komprodnya anak bs sekalian minta kerjasamanya. Selain suami, juga sampaikan ke anak2, whether mereka udh ngerti or not ya tp pasti mereka bs diajak komunikasi kok (bagi yg anak2nya balita) jd klo misal pas jam mereka main, emaknya pegang hape, bs kasih pengertian bahwa bundanya lagi belajar. Dan minta ijin menceritakan hasil komprod dengannya ke org banyak.
3. Siapkan media pelaporan. Media pelaporan bs dalam bentuk apapun tergantung kenyamanan masing2. Kalau mau private, ba pakai gdoc. Kalau mau sekalian sharing bs pakai sosmed yg paling nyaman. Saya pakai blog dan ig (karna gak banyak komen dan gak banyak menimbulkan pro kontra).bisa pakai media lain misal pinterest, facebook, path, apapun deh. Bentuk laporan pun bs berupa tulisan, foto, video.
4. Atur schedule harian. Kalau yang bekerja di ranah publik mungkin justru punya waktu agak longgar ya bs menyisihkan waktu istirahat atau bbrp menit sebelum pulang utk sedikit lirik2 materi lalu hasil komprod bs dilaporkan ps habis pulang kerja. Kalau yang bekerja di ranah domestik seperti saya, bisa menetapkan waktu online setelah bangun tdr pagi2, sebelum perdomestikan dimulai, atau ketika anak tidur siang (setelah ikut ngliyep sekedar 10 menit) lalu pelaporan bs dituliskan malam hari sebelum tdr setelah anak2 tidur. Kalau yang anaknya udah gedean bs minta waktu khusus utk tdk diganggu dulu karna bundanya mau nulis hasil praktik atau bundanya mau belajar, gtu. Kalau ketiduran gmn? Bangun lg tengah malem lalu start nulis. Hehehe. Kalau kelewatan ya terpaksa rapel.
Laporan ini sebenarnya manfaatnya banyak utk kita sendiri lho karna bs jadi portofolio anak, bs jg jadi pengingat utk mjd lbh baik terus. Paling gampang pakai dokumentasi video/voice record menurut saya, baru dituliskan. Jd gak kelamaan nginget2.
5. Siapkan stamina
6. Siapkan camilan utk temen begadang hehehe.
7. Siapkan diri utk tantangan setiap hari.
8. Pastikan anak2 dan suami kenyang sebelum jam online tiba hehehe

Mungkin itu sedikit tips awal utk memulai kelas bunsay ya. Semoga lbh mudah manjalaninya. Selebihnya bs menyesuaikan keadaan sambil jalan….

Selamat belajar…

Siap menerima tantangan game level 2!

Blog: ingratri.blogspot.co.id
Ig: ing_ratri
Fb: heny ratri estiningtyas
Pinterest: heny ratri estiningtyas
Email: heny.ratrie@gmail.com

Saturday, November 11, 2017

Minum obat

Tantangan hari ke-9 ini, masih tentang komunikasi produktif untuk haidar mau minum obat. Akibat jatuhnya kemarin, Haidar harus minum antibiotik untuk menghindari kemungkinan infeksi karna kita tidak pernah bisa memastikan kebersihan luka baik pada saat terjadinya kecelakaan atau pada pasca kecelakaannya. 

Ada 2 obat yang dikasih dokter, yang satu pereda rasa nyeri (analgesik) yang satu antibiotik. Dua-duanya berbentuk sirup. Yang pereda rasa nyeri rasa strawberry, sy pikir haidar pasti akan suka, ternyata justru gak doyan, katanya: ini bukan rasa strawberry ibun...yaaa namanya juga perisa kan ya pasti ada rasa-rasa gak enaknya. Tapi gakpapa, gak tak paksain minum karna waktu kutanya, dia bilang udah gak sakit. Nah yang satunya ini antibiotik dan harus dihabiskan untuk mencegah kebalnya bakteri. Untungnya yg ini haidar mau. 

Awal komprod soal obat, ibun masih pake ancaman: kalau gak mau minum obat, hapenya ibun ambil, haidar gak boleh lihat hape (in case, haidar lagi main game di hape). “ah ibun niiii...jangan kayak gitu” dan akhirnya mau. 

Tapi pas minum obat yang kedua, ibun cerita dulu soal kaki ibun yang sakit. Menerapkan kaidah mengganti nasihat dengan refleksi pengalaman. Tapi jadi panjaaaang
“haidar, ibun dulu juga pernah jatuh trus dijahit lho, sama kayak haidar”
“oooh mana?”
“ini” sambil nunjuk kaki kiri bagian bawah samping jempol kaki
“kenapa?”
“ini ibun kena sabit, sabit itu pisau tapi bentuknya kayak gini” ibun memeragakan bentuk sabit dengan jari telunjuk yang dibengkokkan ke bawah
“oh kayak gini?” haidar menirukan
“iya, kayak gini.”
“oooh ibun lagi ngiris-ngiris trus gini trus gini trus kena deh, gitu?” haidar memperagakan adengan mengiris sayuran
“Bukan, ibun mainnya sambil berdiri trus, sabitnya ibun pegang trus kaki ibun kena sabitnya.” tik tok Tik Tok... Gak ada  respon.. “ibun dulu dijahit juga, ditolongin mbah mimah lho. Mbah mimah yang bawa ibun ke rumah sakit karna kakung sama uti lagi kerja"
“oooh mbah mimah itu punya kucing?” (kok jd bahas kucing??) 
“enggak, mbah mimah punyanya kelinci”,“ibun gak bisa jalan lho karna kakinya sakit”
“oh haidar bisa. Harusnya ibun bisa jalan kayak gini...” sambil mempraktekkan mangangkat satu kaki dan jalan dengan satu kaki.
Duh, ini langsung tembak aja deh... “trus karna sakit, ibun minum obat. Alhamdulillah ternyata jadi gak sakit. Allaah sembuhkan ibun dengan wasilah minum obat”
“mana obatnya? Udah habis?” wew nanyain nih...
“iya udah habis. Jadi sekarang haidar minum obat ya..” langsung tembak aja deh, pikirku
“haidar udah sembuh kok” wah senjata ini...
"Masaaak? coba lihat yuk di cermin udah sembuh belom?”
“nggak mauuu” hadeeeh... Piye ini... Hmmm ini termasuk ancaman bukan ya?
“Kalau haidar nggak mau minum obat yang stroberi, minum obat yang bukan stoberi tok aja boleh kok. Obat yg itu harus dihabiskan”
“tapi haidar ndak mau”
“kenapa ndak mau”
“karna haidar udah ndak sakit lagi”
"Haidar, obat yg ini (sambil nunjukin obatnya), harus sampai habis diminumnya.nih lihat tinggal segini. Haidar mau minumnya pakai sirup? Madu? Air putih dingin? Boleh kok."
"tapi haidar ndak mauuuu"
" yaudah klo memang ndak mau, ibun sudah mengingatkan ya... Obat ini harus habis. Karna ini namanya antibiotik. Kalau gak habis, justru bs bikin haidar lbh mudah sakit. Dan ibun sayang haidar, ibun gak mau haidar sakit lagi. " sambil naruh obat dan hopless sudah... Ternyata haidar dateng mendekat dan bilang "haidar mau bun" langsung  berbintang2 mataku "mau minum obat?" "iya mau" "alhamdulillah... Haidar mau minum obatnya pake apa? Ibun siapin dulu ya..." 
"mmm mau pake sirup, eh bukan, air putih dingin aja boleh. " hahahaha baiklaaaah... Segera meluncur booooos

Dan jangan dipikir setelah ini udh ngerti dan gak perlu komprod lagi. Hampir tiap mau minum obat selaluuuu komprod dulu... Hufth ini mah nguji emaknya... Tapi baiklah... Yg penting berproses ya... 


 



Friday, November 10, 2017

Day 8

Jahitan di dahi

Tadinya mau upload video hasil ngobrol sm Haidar tentang tetangga, yg sm Haidar selalu ditutupin gerbang gak boleh masuk tp klo main di luar, mau. Gak jadi karna ternyata ada kejadian luar biasa sore ini.

Tadi siang dapet info lg ada festival sate di Fakultas Peternakan UGM, dr jam 15 sampai selesai. Ibun ajakin Haidar buat ke sana. Lumayan kan bisa lihat kambing sm sapi juga di sana. Trus karna acaranya jam 15,jam 12.30 ibun suruh Haidar tidur siang dulu. Berangkat masuk kamar sih anaknya, tp di kamar masih banyaaaak bahasan. Ngobroool, main ngumpet2 sm adeknya, dll dll. Ibun blg, ibun tunggu 5 menit lagi klo Haidar gak mau bobok, kita keluar kamar aja. Ibun belum sholat.

Trus beneran udh 5 menit lbh dia masih on fire, akhirnya ibun keluar dan kemudian para krucil pun mengekor. Setelah sholat, kami makan siang. Habis makan siang rencananya mau ambil laundry, lalu ke penjahit. Tapi ibun denger Haidar nangis. Ibun pikir kayak Haidar biasanya, pura2 nangis kayak adek aja. Tp pas ibun intip, ternyata beneran nangis.

Dan melihat cairan merah ngalir ke arah mata, ibun udah lari aja langsung junjung Haidar ke kamar mandi buat dicuci pasir2nya. Haidar jatuh kepleset lalu kepalanya entah terantuk apa. Waktu ibun tolongin Haidar, bahu ke atas ada di tanah, bahu ke pinggang ada di lantai, pinggang ke bawah ada di bebatuan. Haidar mau isi air kolam karna airnya tinggal setengah dan karna lantainya basah, jadinya Haodar kepleset. Kebetulan di deket kolam ada beberapa alat pel dan batu2 putih. Entah yang mana yang bikin dahi Haidar bocor. Ibun buru-buru bersihkan luka Haidar.

Habis ibun bersihkan lukanya, ibun kasih lecitin dan sofratule. Minyak lecitin ini warisan banget dr pakmer. Minyak ini ampuh ngobatin luka dan gatel eh bahkan jerawat lhooo...karna mengandung antibakteri. Malah promo 😅.

Ditengah kepanikan dan kebingungan ini gimana darahnya kemana2, ibun sempetin komprod sm kakak buat ke Rumah Sakit setelah kakak tenang dan ibun (berusaha) tenang juga.
"kak, ini darahnya banyak sekali, kita ke dokter ya biar dibersihkan darahnya? "
"ndak mauuuu...dibersihin sama ibun aja" (nangis lagi)
(tenangin dulu)
"ibun udah bersihkan ini tapi ndak bersih bersih" (pakai bahasa kakak yg biasa bilang 'ndak habis habis' klau makan permen gak bs habisin 😜'
"oooh ibun bisa kok, dibersihin sama ibun aja" (nangis lagi, kali ini sambil nguap)"
Oooh ngantuk nih kayaknya anak ini.
Sambil mikir juga sebenernya kalau dia mau, mau gmn bawa ke kliniknya? Ada motor di rumah tapi mau mboncengin, kakak pasti gak mau di belakang. Kepikiran juga pakai taksi online, tp anaknya dibujuk2 masih gak mau. Sebenernya kalaupun mau, bingung juga nanti meganginnya gmn karna pasti harus dipegangin dan sekaligus handle si adek kan waktu lukanya dibersihkan. Aih... Pikiran udh kemana2, yg di depan mata nangis terus. Untung udah lumayan mampet darahnya.
Dan akhirnya belum juga kelar komprod, udh tidur anaknya... Hadeeeeh... Emang udh jam tidurnya dia sih. Udah jam 2 dan belum tidur siang. Yasudah akhirnya dibiarkan gitu dulu.

Bangun tidur jam 16.30 nanyain "bun,kerannya udah dimatiin belom? Haidar lupa"
"oooh jd tadi Haidar kepleset karna lari2 buru2 mau matiin keran?"
"iya, kan airnya sedikit to? Nanti kasian ikannya"
"airnya apa? "
" airnya itu yang di ikan" kolaaam maksudnya. weeew dia masih mikirin ikan padahal kepalanya bocooor. Alamaaak...
"sudah kok kak, sudah ibun matiin tadi waktu haidar bobok, ibun denger suara kayak hujan ternyata air keran udah penuh trus ibun matiin"
"ooh hujan ya? Coba haidar lihat dulu"
"bukaaaan bukan hujan naaak, kayak hujan, bukam hujan beneran" 😰
Tapi telat, anaknha udh lari. Dan dianya gagal fokus malah nemu sepeda laku sepedaan... Si emak yg lagi baper merasa bersalah dan khawatir kenapa2 ini cuman bisa meringis di ujung pintu. Lalu teriak:

"kaaaak, ayoook masuk... Main sepedanya nanti dulu laaah... " anaknya entah gak denger entah gak mau dengerin yang pasti dia sepedaan aja. Lalu ditanyain sama para tetangga yg ada disitu.
" itu kenapa kepalanya? "
" kepleset " jawabnya singkat padat jelas
Aku lalu mendekat..." lha Mbak apa gak nangis? " tanya salah satu tetangga.
" udah tadi bu nangisnya" jawabku
"trus itu udah dikasih apa? "
" sy kasih minyak lecitin sm sofratule bu"
"itu dikasih minyak tawon mbak cepet sembuh nanti" salah satu tetangga ada yg kasih revanol utk membersihkan luka.

Lalu sambil kubersihkan bekas darah di sekitar dahinya, sambil komprod
"kak, ke klinik yuk, biar dibersihin lukanya"
"ndak mau, sama ibun aja"
"yaudah mandi dulu ya udah sore ni"

Setelah mandi, kegiatan sorenya adalah makan. lanjut komprod lagi nih:
"kaak, yuk ke klinik, biar dibersihin lukanya"
"ndaaaaak, haidar ndakmau. Tapi haidar maunya sama ibun"
"iya nanti ibun temenin ke ruang dokternya, trus nanti dibersihin sama dokternya. "
" kan tadi sudah dibersihin to sama ibun? "
" iya tp kan blm bersih banget ibun gak tau yang tau dokter... "
" ndak mauuu"
"ayoklah kaaaak, nanti kalau sakit, haidar boleh pukul ibun boleh marah sm ibun" udah mulai gave up nih emaknya
Tapi tetep lanjut, dengan lebih tenang "kak, klo ibun lg sakit, trus kakak berdoa ya sm Allaah. Kakak doain ibun ya? Gmn doanya? Ya Allaah, berilah kesembuhan pada ibun, semoga ibun cepat sembuh lagi, sehat, dan gak sakit2 lagi, Engkaulah yang Maha Penyembuh atas segaka penyakit, aamiin. (ini dia sambil niruin). Nah sekarang, karna kakak yg lg sakit, hayuk kita berdoa mohon kesembuhan buat kakak. Ya Allaah, berilah kesembuhan pada Haidar, semoga Haidar cepat sembuh dan sehat ceria lagi, Aamiin (ini jg niruin). " trus dia langsung bilang " daaah " lalu lanjut pegang sendok lagi.
"jadi, ke Rumah Sakit ya Kak?"
"nanti sembuh sendiri kok. Kan udah doa" tepat seperti dugaan saya.
Dan saya pun sudah menyiapkan jawaban "selain berdoa, kita juga harus ikhtiar. Kita harus berusaha gmn caranya biar sembuh. Nah salah satu caranya dengan pergi ke dokter. Kan dokter itu bs tau lho oooh ini luka haidar belum bersih, masih ada pasir-pasir. Oooh itu nanti perlu ditutup, soalnya lukanya membuka, biar gak kena lalat"
Ah ini gak bs KISS (keep information short and simple) karna harus menjelaskan panjang lebar...
"ditutup apa? "
Hehehe anak2 ya yg ketangkep yg terakhir2 aja.
" nanti mungkin ditutup pakai kassa biar darahnya gak keluar2 lagi"
"jangaaan, nanti darahnya gak bisa masuk" hahahaha ini serius bikin ngakak jawabannya. Dan sambil nahan ketawa, ibun menimpali
"darahnya kan ada di sini di dalam kepala haidar. Darahnya justru gak boleh keluar. Kalau darahnya keluar, harus ditutup"
"tapi haidar ndak mau darahnya ditutup"
"ayok lah haidar, kita tanya aja kok ke dokternya, dokter ini haidar td habis jatuh coba dilihat dong masih ada pasirnya apa enggak? "
" sama ibun aja "
" ibun gak bisaa"
"bisaaa"
"yaudah lah, terserah haidar aja. Ini ibun mau sholat trus berangkat ke RS ya"
Pecahlah tangisnya dia.
"piye to haidaaaar... Haidar maunya gmn? Mau nunggu abi pulang? "
" ndak mauu " masih sambil nangis.
" Gini aja, hbs ini ibun sholat, trus ibun pesan taksi trus kita ke dokter"
"ndak mauuu"
"ya gapapa klo ndakmau tp Haidar di rumah sendiri karna ibun sm adek mau ke dokter"
Ini lumayan lama nenangin dia dulu, lalu lanjut komprod lagi.
"mauk ya ke dokter ya"
"ibun aja deh sm adek"
"haidar ndak ikut?
"ndak usah aja"
"tapi di rumah sendiri lho"
"kan nanti abi pulang, nanti haidar bukain pintu abi"
"gak bisa, abi mau jemput ibun dulu ke RS"
Sampai sini dia nangis lagi...

Trus akhirnya ibun mutusin buat sholat dulu
Habis sholat tanya lagi "mau ya kak, ke dokter?"
"ya mau" hah apa? Kok tiba2?
"beneran mau? " ini masih gak percaya rasanya. Allaah yang bekerja atas ini semua. Kenapa gak daritadi sih sholatnya...?!
" iya mau, nanti sama abi ya bun"
"oooh mau nunggu abi dulu?
"iya nungguin abi dulu "
" okee baiklah, ibun ganti baju dulu ya"

Pas setelah selesai bersiap2, abinya pulang dan langsung ditodong buat pergi lagi.

Sampai di klinik, dia masih ajak adeknya jalan2 sambil nyanyi Garuda Pancasila. Perawatnya memanggil Haidar untuk dibersihkan lukanya, tapi nomor antriannya belum berpindah ke giliran dia sebenernya. Dan benar saja dugaan ibun, Haidar gak mau. Menurut ibun sih karna Haidar takut dan belum siap aja, tp alasan Haidar gak mau adalah karena belum bunyi ting tung suara panggilan nomor antrian. Jadilah perawatnya ngalah aka sudah, 'yaudah bu, nanti aja' hihihi kakak menang banyaaak.

Pas di ruang dokter, semua baik2 saja sampai akhirnya dokter menawarkan untuk dijahit. Ini kan gak mungkin komprod dulu ya, kelamaan. Kasian yg nunggu giliran di luar. Akhirnya tetep dijahit, sambil dipegangin abi, dokter magang dan ibun. Sambil terus coba ibun bicara sm haidar. Haidar nangis dan berontak. Ibun tau mungkin kalimat ibun gak akan terdengar sama haidar tapi ibun coba terus. Kakak marah dan mukulin muka ibun, tp gakpapa. Kan ibun juga janji Haidar boleh mukul ibun dan bole marah sm ibun kalau sakit.

Karna haidar berontak, jd jahitanyya agak longgar, dan itu bikin dokternya harus ngulangin jahitan. Kakak kuat dan berani sekali. Setelah selesai dijahit, kakak udah gak nangis lagi dan baru ibun coba jelaskan pelan-pelan baik-baik.

Alhamdulillah sampai di sini, Haidar sudha tertangani dengan baik insyaAllaah. Itu yang terpenting. Satu yang ibun syukuri adalah, jikalau ini memang qodarnya Haidar dapat musibah semacam ini, ibun ada sama Haidar.. Hikmahnya: hati-hati ya...

Thursday, November 9, 2017

day 7

Yogyakarta, Kamis, 9 November 2015

Bertanggung jawab vs merasa bersalah

Berbicara dengan anak umur 3 tahun yang notabene kemampuan verbalnya sedang tinggi-tingginya ini tantangan sekali ya. Banyak hal yang membuat saya sering berpikir: aiiih iya ya, kan saya yang kasih command begini ke dia, kalau sekarang dia begini ke saya ya jangan heran dong ya...

Misalnya sore ini, saya bilang: Kak, tolongin ibun beberes legonya dong (dia tidak menengok, masih asyik main mobil-mobilannya). Kita kan mau ke klinik meriksain adek, sebelum kita pergi, kita bereskan dulu mainannya ya.

Dia jawab sambil tetap bermain: ibun aja

Ibun: yaaa kan kakak yang main
Kakak: kan ibun yang tuang to
Nah begini ini yang saya maksud. Duluuu beberapa kali pernah saya minta dia bersihkan makanan atau minuman yang tercecer. Atau juga membereskan mainan yang dia pakai dengan bahasa yang sama : kan kakak yang makan, kan kakak yang minum, kan kakak yang tuang mainannya (dari kardusnya). Berasa ngomong sama cermin ya,,,anak-anak tidak pernah salah mengcopy. Dan dari sini, saya mulai merasa  butuh untuk duduk menghadap dia, merendahkan badan, down on my knee, menatap matanya, senyum dan bicara dengan lembut: kakak sayang, boleh gak ibun minta tolong dibantu memasukkan lego ke wadahnya? Yuk kakak masukin ibun yang pegang plastiknya yaaa...

Dan dijawablah sama dia: mmm boleh ayok

Ah...i got it. Beda cara bicara, beda diksi, beda ekspresi, tanggapannya bisa drastis banget ya.

Kemarin malam, saya dan suami baru berdiskusi, kok kakak mulai agak menghindar dari kesalahan ya? Apa kita terlalu keras mendidik ya? Misalnya lantai basah, dia habis pegang gelas, trus kami nanya: siapa nih yang numpahin minum ayo bersihkan...dia bisa langsung jawab : adeeeek. Apa mungkin komunikasi kami yang kurang tepat ya?
Niatan kami adalah untuk menanamkan tanggungjawab, bahwa dia yang melakukan dialah yang harus bertanggungjawab, tetapi kok jatuhnya kayak dia merasa disalahkan dan efeknya jadi menghindar dari kesalahan. Yang kami khawatirkan jika lebih jauh lagi jadi bohong karena takut disalahkan...

Waini, harus ada yang dikoreksi. Mungkin dari cara penyampaian kami membuat dia merasa disalahkan dan merasa perlu mencari pembenaran biar tidak dimarahi atau tidak disuruh-suruh. Lalu dari sini kami bertekad untuk memperbaiki cara komunikasi, mumpung pas masuk materi komunikasi produktif juga nih. Mungkin kasus membereskan lego di atas bisa jadi alternatif solusi komunikasi yang bisa diterapkan terus menerus. Noted banget nih: jangan membuat anak merasa bersalah ya....dan perbaiki cara penyampaian komunikasi


day 6

Rabu, 8 november 2017

Rabu ini harusnya jadi harinya kakak. Jadi untuk mengkayakan kegiatan anak-anak yang notabene belum sekolah dan dengan gaya pengasuhan yang mengacu pada FBE (Fitrah based education) ibun dipaksa harus kreatif membuat ide-ide kegiatan untuk anak-anak.
Lalu berbekal hasil riset sana sini yang mengacu pada beberapa jadwal harian para homeschooler atau pelaku FBE, dan diskusi produktif sama abinya anak-anak, maka terciptalah jadwall harian dimana senin adalah hari di rumah untuk beberes rumah, selasa harinya ibun yang bertepatan dengan jadwal halaqah ibun, rabu harinya haidar, kamis harinya adek, jumat harinya abi dan sabtu harinya berbagi kegiatan bersama. Lalu minggu? Tentulah minggu adalah harinya keluarga.

Rabu ini, mendung dan hujan seharian sukses bikin ibun mager buat kemana-mana.jadilah kami di rumah aja bikin kegiatan dan pembelajaran di rumah. Mewarnai, baca cerita, bikin gambar, lipet-lipet baju, dan antar baju ke laundry untuk disetrika. Praktek komprod hari ini adalah bikin CoC ke kakak tentang naik sepeda di jalan umum. Kami mau antar baju ke laundry untuk disetrika dan kakak maunya naik sepeda. Gak mungkin dong ibun bawa 3 plastik besar baju dengan berjalan kaki? Nah akhirnya diputuskan untuk naik motor sambil gendong adek, tapi kakak maunya naik sepeda. Sebenarnya gak jauh sih, hanya saja melewati jalan yang banyak dilewati motor/ mobil. Kakak menyebutnya jalan mobil. Jalan ini pun sudah biasa kakak lewati dengan bersepeda kalau ke warung sama ibun beli sayuran. Bedanya kalau biasanya ibun membersamai kakak sepedaan sambil jalan kaki jadi klo kakak jatuh atau jalannya agak ke tengah bisa sambil megangin kakak, nah kali ini ibun naik motopr yang pastinya gak bs hands on kan...?

Lalu terbitlah CoC ala ibun. Kakak, boleh naik sepeda, syaratnya:
1.      harus jalan di pinggir sebelah kiri
2.      berhenti di ujung pertigaan dan lihat kanan kiri
3.      hanya boleh jalan ketika kanan dan kiri gak ada kendaraan dan aman
4.      belajar menggunakan rem
5.      kalau jatuh, bangun sendiri
6.      kakak jalan di depan ibun

dan kakak mematuhi semuanya. Walau tetep ada jatuh-jatuhnya dan teriak-teriak “kakak awas ada motor ayo ke kiri, berhenti dulu”, tapi aman untuk dijalankan...yeay! lagi-lagi CoC sangat membantu.

day-5

Selasa, 7 november 2017

Memiliki 2 balita dalam satu rumah tanpa ART itu bagi saya luar biasa. Selalu curi-curi waktu untuk me time. Sekedar baca buku, pegang gadget (yang akhir-akhir ini trafficnya menroket tajam), nyruput kopi dengan tenang, makan sambel pakai tangan, mandi tanpa buru-buru itu mewah banget. Yang ada kalau anak-anak tidur, kepikiran kerjaan rumah, belum lagi ratusan chatt yang belum direspon. Iya kalau anak tidurnya barengan, bisa ikut ngliyep sekedar 15 menit itu udah seger banget rasanya, lha kalau tidurnya gantian? aiiih manajemen waktunya diuji banget nih. Katanya manajer handal keluarga kan ya...hehehe. itulah pentingnya time schedule, pendelegasian pekerjaan, gadged hours, cut off time dan exit procedure. Penasaran sama istilah-istilah ini? makanya ikut matrikulasi Intsitut Ibu Profeseional hehehe.

Seperti sore ini, anak-anak tidurnya gantian, saya pun harus bagi waktu antara urusan domestik dan main sama anak, demi menghadirkan seluruh jiwa raga saat membersamai anak-anak. Maksudnya biar gak kepikiran cucian kalau lagi main sama anak. Dan akhirnya yang terkalahkan adalah gadget. Jam online siang saya memang fleksible banget. Biasanya sih antara jam 11-15 tergantung jam tidurnya anak-anak. Kalau pas normalnya sih biasanya barengan. Si adek biasanya tidur pagi jam 9-10 lalu si kakak tidur siang jam 11 atau 13 . kalau tidurnya jam 13, bisa barengan mereka, si adek juga tidur siang dan si kakak ni kalau tidur siang bisa lamaaaa sampai 3 jam anteng banget tidurnya. Nha tapi kalau kadang tidurnya jam 11, si adek belum ngantuk lagi si kakak udah bangun. Kalau begini ya sudah dadah babay aja sama hape.
Sore ini berhubung ada bahasan yang puenting dan urgent, ibun akhirnya komrpod deh sama kakak

Ibun: “kak, ibun mau bikin kegiatan lho”
Kakak: “ooh kegiatan apa?”
Ibun: “mau bikin workshop, workshop itu kayak latihan. Latihan bikin bento”
Kakak: “bento apa?”
Ibun: “bento itu makanan yang dihias-hias gitu”
Kakak: “oooh”
Buru-buru “trus ibun harus ngobrol nih sama tante Endah, Tante Nisa, dan lain-lainnya buat urus acara ini. Ibun minta ijin pegang hape ya... sampai jam 16 aja deh (waktu itu jam 15). Boleh ya?”
Kakak: “oh boleh, nanti gantian haidar ya bun”
Ibun: “gantian apanya?”
Kakak: “hape ibunnya, nanti gantian haidar pegangin hape ibun, gitu”
Ibun: “tapi ibun masih mau pake ee”
Kakak: “nantiii, ibun selesein dulu. Kan nanti jam 16 to?” (padahal dia juga belum ngerti jam)
Ibun: “hmmm boleh tapi sebentar aja ya. Kan ibun juga cuman sebentar. Sekarang haidar boleh mau main apa?mobil?lego?masak?pasir?atau apa?
Kakak: “mmm mobil aja deh”
Ibun: “oke” (bilang oke gini si ibun tetep aja pegang hape. Harusnya mah nyiapin mainan si kakak dulu baru lanjut pegang hape.)

Dan kemudian kakak bermain mobil-mobilan for a very few minutes dan lanjut “ibuun lihat ini,lihaat ibuuun.” Lalu nyanyi-nyanyi teriak teriak di telinga dan saya masih nyambi menanggapinya dengan sesekali lihat hape.
“kak, ibun minta waktunya sebentaaar lagi ya, ini gak akan lama kok, ibun janji ya” nyanyinya masih lanjut. Dan saya tetiba sakit perut...”kak ibun mau e*k nih, ibun ke WC dulu ya” “ooh sini hapenya haidar bawain” “hapenya mau ibun bawa e kan ibun belum selesai”
“ooh jangan, nanti basah lho” aaaggghhh gagal maning gagal maning sooon. Yasudahlah, segera selesaikan dan gak sampai jam 16. Tepatnya jam 15.20 saya sudahi semua itu. Saya kasih hape ke haidar, sekitar 15 menit,lalu saya ajak dia jalan-jalan naik sepeda.

Baiklaaah...terimakasih kepada teman-teman yang dengan sepenuh hati mengerti dan memahami keriwehan ini...masa ini gakl akan lamaaa...masa kanak-kanak tidak akan terulang, makaaa...nikmatilah,maksimalkanlah. Untuk ini kok saya resign dan menolak beberapa tawaran kerja...klo udah begini inget-inget motivasi dan luruskan niat, selonjorkan kaki rilekskan pikiran,tenangkan jiwa daaan nguleeet dulu lah biar seger.

Note: kalau mau online di depan anak-anak, pastikan:
1.      mereka sibuk dan asyik dengan mainan yang bisa mereka nikmati sendiri dan membuat mereka sangat tertarik. Tiap anak beda-beda ya buibu

2.      anak-anak gak akan betah diam dengan satu kegiatan lebih dari 1 jam. Jadiii,,,lakukan dengan cepaaat.

Tuesday, November 7, 2017

Teriak itu... Bukan komunikasi

Yogyakarta, Senin, 6 November 2017
       
            "Teriak itu tidak bicara"

"Haidaaaaar...stop", "Kakaaaak, denger gak ibun bilang apa?!" "haidar mau goreng pisangnya? Klo mau, ibun yg tak main sam adek, silakan haidar yg goreng!"
Hufth kalau ditulisin lagi begini, sedih ya bacanya. Berasa iiih gitu amat sama anak... Tp pas keluar kata2nya kok ringan banget? Gak kerasa ya? Baru lah sadar dan ngerasa bsrsalah pas udah begini. Liat mereka tidur damai, gantian emaknya yang nangis bombai.

Iya lhooo... Kayaknya udah belajar komprod deh, kok masih teriak? Tau kan klo teriak itu bukan bagian dari komunikasi? Iya tau. Tau banget, tp gak inget? Inget, pas udah begini ini ingetnya. Klo pas teriaknya ya sekedar luapan emosi aja yg ada. Iya, karna teriak itu lebih pada pemuasan emosi sesaat, gak ada niatan komunikasi. Informasinya sampai gak? Enggak tuh, yg sampai emosinya doang. Ah mari buka materi lagi, tentang kaidah 7-38-55. Kata2 atau bahasa verbal  itu cuma 7% aja mempengaruhi komunikasi, 38%nya intonasi dan 55% bahasa tubuh. Hadeeeh... Kalau inget juga ttg teriakan itu bs merusak otak anak... Sudah deh, cm mohon ampun dan minta koreksi aja sm Allaah.

Hari senin adalah harinya di rumah, bersih2 rumah. Setelah weekend seringnya habiskan waktu buat family time, senin itu jatahnya ngepel, cuci lap, beberes ini itu, vacuum cleaning sofa dll dll. Dan itu berasa capeeek bgt. Padahal ya udh dibantu paksu tp tetep aja masih berasa capeknya. Biasanya senin yang sudah2, kami fun sekali mengerjakan pekerjaan rumah bareng2, bikin makanan bareng2, tp senin ini hampir setengah harinya ibun habiskan utk teriak2.

Haidar, sejak mulai menginjak usia 3thn ini semakin keliatan commandernya. Apa2 harus ikut aturan dia. Termasuk adeknya. Bahkan ketika dia ganti baju pun, adeknya harus pakai baju yang sama. Kalau dia mau melakukan sesuatu, dia mau repot2 ngatur adeknya lakuin apa ibunnya lakuin apa dimana pakai apa? Dan hari ini, hal itupun mengganggu sekali buat ibun...

Dan karna ketika kita mengeluarkan energi negatif, maka akan menarik hal negatif pula ke arah kita, makaaaaa sakndilalahnya, kok ya yg biasanya Haidar gak makan di kamar, itu kok ya bawa2 makanan ke kamar, berantakan di kamar. main lilin kok ya ditetes2in di lantai, dibawa jalan2 sampai kamar, kena sprei. dan udah capek fisik dan capek marah2, akhirnya cuman bilang gini : haidar, ini bahaya kalau bawa2 lilin ke kamar. Api itu bs membakar. Haidar boleh main lilin, tapi ayok di luar aja. Ini serius, udah gak bs marah lagi jd kata2nya ud lemeees bgt keluarnya. Sampai luar Haidar malah nangis. Pas ibun tanya: ada apa kok nangis? Ternyata dia sedih liatin lelehan lilin dimana2. Dia bilang "tapi piyee ini bersihinnya? Berantakan dimana2... Ya allaah... Piye ini?"
Nyessssssss..... Kok ibun malah jadi terharu ya Kak... Akhirnya ibun bilang, Haidar bingung gimana bersihinnya? Iya... Kalau gitu haidar bs mibta tolong ibun. Gak perlu nangis. Ayo kita bersihkan bersama2. Ibun bersihkan yang di kamar, haidar bersihkan yg di luar ya... Iya (masih sambil mewek)...

Ok sekitar setengah jam kami bersihkan lilin oakai sendok di keruk2, lanjut pakai mr muschle yg khusus buat dapur itu lalu di pel lah. Alhamdulillah suami pulang udah gak kayak house of wax

Dan membuang energi negatif itu selalu berhasil dengaaaaan berbagi, bersedekah, memberi. It always work for me. Jadilah kami bagi2 pisang goreng ke tetangga2.

"ibun, inget2 ya, jangan malah2 lagi... Haidar inget2 gak mamam di kamar lagi. Kalo ibun marah trus ibun masuk kamar mandi keras2 (maksudnya tutup kamar mandi), haidar pergi lho. Ibun jangan marah2 lagi ya. Inget2 ya... "

Ibun: iya, maafin ibun ya haidar... Ibun inget2 kok
(ternyata itu mmg dia lg sukaaa bgt pake kata inget2)
Haidar: iya ibun jangan ulangi lagi yaaa
Ibun: iya, haidar jangan ulangi lg juga ya... Jangan pergi2 ya.. Ibun sedih klo haidar oergi2
Haidar: iya tapi ibun inget2 yaa...

Hbs dia ngomong gini, dia masih command adeknya yg makan mangga pakai sendok, harusnya pakai garpu deeek. Naruhnya jangan gituuuu bisa jatuh sendoknya... Maemnya ditelen duluuu satu2, jangan semua2 nanti dilepeh lhooo

Kali ini ibun udah liatin sambil senyum2 aja... Ampuni aku ya Allaah.... Ini komprodnya apa kabar? Ah aku anggap ini keberhasilan komprid 3hr yg lalu, yang akhirnya anak pun bs ikutan komprod ke emaknya...anak memang guru terbaik...
Alamaaaak ini yg praktek komprod justru anaknya, mak? Piye perasaanmu? Ketampar2 gak? Iye kaaan?

#harike5 #komprod #komunikasiproduktif #kelasbundasayang #kelasbunsay #bundasayangjoglo #bunsayjoglo #tantangan10hari #iip #iipjogja #institutibuprofesional #ibuprofesional #parenting #pilarmendidikanak #catatanemak

Saturday, November 4, 2017

Code of conduct

Day 2
3 November, 2017

Everyday is komprod

Tantangan 10 hari untuk melaksanakan komunikasi produktif ini, bukan berari bubar jalan setelah 10 hari ya pemirsah...ini Cuma langkah awal,membentuk habit, dibikin tantangan biar tertantang, biar semangat jalaninnya bareng2 berjamaah, tapi aplikasinya akan seumuuur hidup. Dan target komprod saya dengan anak, bukan berarti sama yg lain enggak,lhooo. Komprod ini penting banget dipraktekkin sama siapa aja. Karena pentingnya komunikasi adalah pada tersampaikannya informasi yang dibawa. Nah gaya penyampaiannya kan beda-beda, dengan komunikasi produktif ini insyaallaah jadi lebih gampang dan damai tentunya.

Sungguuuuh, menyesal kenapa baru ketemu IIP sekarang. Aih tapi yang namanya proses ya mau sekarang mau dulu namanya juga belajar, gak ada matinya gan ada kata terlambat. Lanjuuut aja.

Hari kedua komprod ini lanjutan dan pembuktian dari CoC hari pertama. Sebelumnya saya sounding dan menyampaikan CoC ke si kakak untuk kegiatan pembagian nasi jumat program Sejuta cinta nya IIP Jogja. Ibun nih bangun lebiiiih pagi dari biasanya karna harus masak nasi untuk dibawa ke rumah bunda Siwi lalu di bungkus bareng sama sayur dan lauk yang sudah dimasak oleh bunda-bunda lainnya. Anak-anak pun bangun lebih gasik dari biasanya. Berdua aman akur sampai...siang! gak nyangka banget lho ini. Di rumah bunda siwi pun saya gak pake acara mengingatkan CoC lho ke kakak. Semua alhamdulillah terkendali. Bahkan ketika kakak mau pup pun, bisaaa lho gak keluar di celana...alhamdulillah...

Kakak kelihatan sudah ngantuk pas udah jam setengah sebelas itu. Dan bener, dia tidur di mobil ketika perjalanan mau ke panti nganter nasi. Sayang sekali sebenernya karna pengen banget saya nunjukin ke kakak tentang makna berbagi, tapi yasudahlah insyaallah lain waktu. Sampai di rumah kakak masih tidur dan bangun sekitar jam setengah dua ketika ada tamu. Tantangan mulai datang nih, seperti biasa, kalau ada tamu, kakak ni lagi seneng coba cari perhatian dengan pura-pura jadi adek, yang belum bisa bicara, yang merangkak, yang teriak-teriak juga. Lalu waktu kakak habis pipis dan mau pakai celana, saya manfaatkan ngobrol komprod sama kakak:
Ibun: ibun sayaang sama kakak (peluk haidar dan dibalas dengan pelukan dan senyuman). Posisi kakak di tempat tidur dan ibun di bawah, berlututu. Kakak lebih tinggi dr ibun. “Kakak, adek lucu ya, walau belum bisa bicara tapi lucu ya? Kakak suka ya niruin gaya adek?”
Haidar: iya, suka. Haidar suka kayak adek
Ibun: kenapa suka?
Haidar: karena kasian adek
Ibun: (emot pusing), oooh Haidar kasian karna adek belum bisa bicara jadi Haidar nemenin adek pura-pura belum bisa bicara juga?
Haidar: iya tapi, kasian adek
Ibun: haidar, adek sedang belajar kok, yuk kita bantu adek belajar bicara dengan cara ajak adek ngobrol pakai bahasa. Mmmm, ibun suka lho ngobrol sama Haidar. Ibun suka diceritain sama Haidar dengan bahasa yang jelas.
Haidar: hmmm (sambil meluk)

Ok done di sini, dan sembuh hitungan menit. Hbs itu jadi adek lagiiiiii

Lalu tantangan ke dua adalah ketika Haidar minta uang untuk beli jus alpukat dan ibun tidak membolehkannya karna alasan jarak. Tempat beli jusnya jauh, ibun gak bisa nemenin karena ada tamu. Ibun sampaikan saat itu juga penjelasannya,pelan-pelan sambil berlutut sehingga eye contact dan sejajar tingginya dan berakhir dengan mengalihkan perhatiannya dari jus alpukat menjadi coklat batang.

Tantangan ketiga ini paliiing favorit dari sejak 2 hari melakukan komrod ini terjadi ketika   mau keluar beli galon tadi, ibun pakai helm abi. Haidar segera bertanya: oooh kenapa ibun pakai helm abi?:
Ibun: ibun pinjem punya abi yang udah di luar ini
Haidar: oooh ibun lupa ya belum ijin abi?ijin dulu bun...
Ibun: (amazed denger kakak bilang gitu) sambil nahan haru, ibun bilang sama abi, untuk piunjem helmnya.
Baru mau keluar, langsung dihardik lagi. Ibun belum bilang abi ibun lupa ya?ibun bilang pinjem motornya ya abi gituuuu...
Ibun: baiklaaaah
Trus kami naik motor dan sayup terdengar suara adek nangis. Ibun gak balik karna udah terlanjur mau pergi. trus haidar bilang di motor: ibun ayo doain adek.
Ibun: doain apa:
Haidar :doain yang semoga Adek gak nangis. Kan adek nangis to?nanti semoga adek gak sendrian di rumah sama abi, kakung dan uti........
Wow wow wow...nyetir motor sambil senyum-senyum dan berucap: maa syaa allaah lahaula wa laquwwata ilabillah

Tantangan ke-empat
ketika beli air minum galon haidar minta beli snack. Ibun jelaskan pelan-pelan saat itu juga di warungnya, bahwa haidar masih punya banyak makanan jadi gak perlu beli daripada yang di rumah mubazir. Dengan wajah masam dia mengiyakan arahan saya.
Note: setiap menjelaskan, selalu saya hadapkan haidar ke badan saya, lalu saya turunkan badan saya sampai sejajar haidar, saya tatap mata haidar dan saya pelankan suara saya, alhamdulillah berhasil beberapa hari ini.

Tantangan ke lima hari ini
Masih sering teriak dari dapur, nyambi racik-racik masak, menunda memenuhi panggilan anak :bentar deh kaak ibun nanggung niiih

Kesimpulan: CoC penting vroooh


#harike2
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasi produktif
#kuliahbunsayiip
#bundasayangbatch
#bundasayangjoglo
#bunsayjoglo
#bundasayangkoordinator
#ibu profesional
#ibuprofesionaljogja














Thursday, November 2, 2017

KOMUNIKASI PRODUKTIF HARI-1

Yogyakarta, 2 November 2017

komprod komprod”
Kata kata itu seolah selalu terdengar setiap kali udah muntub-muntub sama si Kakak. Hari ini officially hari pertama tantangan komunikasi produktif dijalankan, tetapi sudah sejak 2 hari yang lalu saya berlatih. Wah, materi pertama di kelas bunda sayang ini memang sanget tepat buat saya yang sedang berjuang untuk stop yelling sejak kelas matrikulasi. Ingin sekali menghadirkan hari tanpa teriakan, tanpa amarah, tanpa ancaman, tanpa paksaan, dan penuh canda gurau tawa bahagia....

Dimulai dari pagi yang damai, si kakak bangun dan minta minum. Maunya minum sama ibun di kamar lanjut pipis pun sama ibun. Okay, clear dan adek sama abi pun bisa damai. Kemudian tantangan pertama datang ketika adek pakai kursi kecil dan kakak meminta dengan merebut, “ini kursi Haidaaaar” wah kalau udah panjang gini intonasinya agak naik, udah tanda-tanda nih, batin saya sambil terus mencuci piring. Kegiatan pagi memang selalu seperti ini, ibun uprek di dapur biasanya dari jam 6 – jam 8 sementara anak-anak main sama abi.

Kejadian berebut kursi masih bisa dikomunikasikan dengan baik oleh suami, saya memilih untuk diam dulu selama itu semua tertangani dengan aman. Rupanya suami membaca adanya tanda-tanda si kakak pup, dan dengan gaya anak bayiknya, Haidar datang ke dapur seraya bilang: “ibun, ini adek trus ibun bilang adek mau eek gitu” ini sebenarnya bagian paling maleeees banget kalau harus meladeni dia yang berpura-pura jadi adek. Tapi baiklah, komprod komprod!! Singkat cerita, saya menanggapi permintaannya untuk bermain peran dengan senyum terpaksa. Setelah sesi pup selesai, setidaknya saya nyicil ayem, si kakak sudah pup dan itu akan mengurangi muka masam saya sehari itu karena dia gak akan pup di celana (lagi).

Rencana komprod hari ini adalah sounding acara ibun hari jumat untuk packing nasjum (berbagi nasi Jumat), dan memperbaiki kaidah 7-38-55. 

Rencana dijalankan dengan memilih waktu yang tepat yaitu setelah mandi ketika antri pakai baju. Kami biasa sambil ngobrol dan bernyanyi. Lhakok ya langsung dapet tantangan dan gagal di teriakan. Waktu ibun siapin baju, sambil melirik duo krucil yang sedang bercanda tertawa-tawa, ibun harus teriak liat si kakak sedang nyikat “p” si adek pakai sikat gigi ibun yang tadi masih dibawa adek dari kamar mandi. Kebayang kan, gimana kagetnya? Mereka biasa saya mandikan dan saya gantikan baju bareng-bareng. Ini mungkin lebih karna malas ribet dan memilih praktis biar barengan rampungnya. 

Haidar 3,5 tahun dan Ayyubi 1 tahun 4 bulan. Setelah berteriak, lalu sadar komprod! Pelan-pelan sambil membaluri tubuh haidar pakai minyak, saya jelaskan tentang aurat, lanjut bernyanyi ‘sentuhan boleh sentuhan tidak boleh’. Semoga masuk, dan tidak meninggalkan rasa penasaran/trauma karna teriakan...

Sounding acara nasjum pun gak semulus yang diharapkan. Timing-nya sepertinya kurang tepat. Haidar sedang fokus dengan buku Mombi nya, dia biasa menceritakan gambar versi dia sendiri. Saya pun lanjut bicara: “ Kak, besok ibun mau ke Panti asuhan, mau berbagi nasi buat makan anak-anak panti, kakak temenin ibun ya?” sampai di sini, dia masih tetap diam dan fokus melihat gambar membuka halaman-halaman bukunya. “tapi sebelum bagi-bagi nasinya, kita akan ke rumah Bunda Siwi dulu buat bungkus-bungkus nasi yang mau dibagi”. 
Nah di tengah-tengah bahasan ini, dia komentar, tapi justru komentarin gambar yang dia lihat, bukan komentar kata-kata ibun. Kan gondok ya kayak dicuekin gitu aja...ibun menanggapi kata-kata kakak dengan kesal dan justru mengalihkan pembicaraan. "Ibun lagi bicara lho, kalau haidar gak mau mendengar, ibun cerita sama adek aja". Dia masih lanjut cerita dong dan saya pun lanjut bicara sama adeknya dan seperti ada 3 anak bayik di kamar itu...olalaaaa...ibun belum selesai dengan egosentris diri sendiri ini. 

Setelah diam sejenak, lalu ibun menimpali, “Haidar, ibun mau bicara boleh?”, “ya boleh” jawabnya. “ibun besok mau ada acara ke rumah Bunda Siwi, mau bungkus-bungkus nasi trus nasinya mau dikirim ke panti asuhan, Haidar mau ya temenin ibun? tapi Haidar sama adek janji ya, kooperatif ketika ibun bungkus-bungkus nasi. Main sendiri ya?!” “oh Haidar mau bantu ibun, Haidar bisa kok bungkus-bungkus nasi. Nanti Haidar ambil pakai piring trus dikasih deh mamamnya.” 
Yess, berhasil nih menurunkan suara, ternyata Cuma butuh semacam jeda aja ya buat atur emosi. Dan jawaban si kakak pun bikin nyeeessss... Alhamdulillah, lanjuuut.

Tantangan komprod hari ini cukup banyak, yang kecil-kecil bisa diatasi dengan eye contact, mendatangi ketika jarak ibun sudah lebih dari 3 meter dari kakak, bicara lembut, bicara pendek dan simpel, mengatakan apa yang kita inginkan bukan yang tidak kita inginkan, tetapi senjata ampuh menahan diri agar tidak marah hari ini adalah : diam sejenak. Ini lumayan bisa membantu untuk tidak berteriak atau mengeluarkan kata tidak produktif. Tetapi masih sering keceplosan dengan kalimat ancaman terutama ketika kakak dorong adeknya atau rebutan. 

Ah sungguh benar, anak-anak ini tidak pernah salah meng-copy, pola komunikasi Haidar yang banyak melarang adeknya ini sepertinya saya banget.”adek adek adeeeeek, stop stop stop jangan ke sana nanti basah lhoooo”. "Adeeeek ndak mau masuk ni? ndak mau? Haidar tutup lhoo pintunya." Baiklah memang harus dilakukan berulang-ulang. Yuk mari, apresiasi hari ini dengan alhamdulillah dan persiapkan hari esok dengan bismillah...semoga allah mampukan. Aamiiin.


#harike1
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip
#bunsayjoglo
#bundasayangbatch3
#bundasayangjoglo
#bundasayangkoordinator
#ibuprofesional
#ibuprofesionaljogja
#henyratriestiningtyas