Yogyakarta, 14
Februari 2018
Institut Ibu
Profesional
Kelas Bunda
Sayang
Materi #4
“Memahami Gaya
Belajar Anak dan Mendampingi dengan Benar”
Kompetensi dasar:
Menguasai
ketrampilan mendampingi gaya belajar anak.
Hasil belajar:
Memahami macam-macam gaya belajar anak;
Mampu menyusun pendampingan pembelajaran
disesuaikan gaya belajar anak.
Indikator:
Mengidentifikasi gaya belajar masing-masing anak
Mempraktekkan pembelajaran sesuai gaya belajar
anak
Dulu kita
adalah anak/murid yang selalu menerima apa saja yang diberikan orangtua/guru
kita, apabila ada hal-hal yang belum kita pahami, lebih cenderung diam, tidak
berani untuk menanyakan kembali. Karena paradigma yang muncul saat itu, banyak
bertanya dianggap bodoh atau mengganggu proses pembelajaran.
Itu baru
tingkat pemahaman, guru/orangtua kita sangat sedikit yang mau memahami
bagaimana cara kita bisa belajar dengan baik, yang ada kita harus menerima gaya
orangtua/guru kita mengajar.
Sehingga
anak yang gaya belajarnya tidak sesuai dengan gaya mengajar
guru/orangtuanya, akan masuk kategori “siswa dengan tingkat pemahaman rendah”
dan kadang mendapat label “bodoh”.
Jaman berubah
dan terus akan berubah. Sudah saatnya kita harus mengubah paradigma baru di
dunia pendidikan.
Dari
sisi orangtua/pendidik:
Apabila anak
tidak bisa belajar dengan cara/gaya kita mengajar, maka kita harus belajar
mengajar dengan cara mereka BISA belajar
Dari sisi anak/siswa:
Setiap
anak/siswa PASTI BISA belajar dengan baik, setiap anak akan belajar dengan CARA
yang BERBEDA
Sudah saatnya
kita belajar memahami gaya belajar anak-anak ( Learning Styles) dan memahami gaya mengajar kita sebagai pendidik ( Teaching Styles) karena kedua hal
tersebut di atas akan berpengaruh pada gaya bekerja kita dan anak-anak ( Working Styles).
Karena kalau
tidak, kita dan anak-anak akan masuk kategori masyarakat buta huruf abad 20,
yang didefinisikan Alvin Toffler sbb :
Mereka yang
dikategorikan buta huruf di abad 20 bukanlah individu yang tidak bisa
membaca dan menulis, melainkan orang yang tidak mampu belajar, tidak mau
belajar dan tidak kembali belajar
Sebelum kita
membahas lebih lanjut tentang gaya belajar ada baiknya kita memahami terlebih
dahulu untuk apa anak-anak ini harus belajar.
Kenapa harus belajar?
Ada 4 hal penting yang menjadi tujuan anak-anak
belajar:
1. Meningkatkan
Rasa Ingin Tahu (Intellectual curriosity)
2. Mengasah
seni / cara anak agar selalu bergairah untuk menemukan sesuatu (Art and
discovery and invention)
3. Meningkatkan
Daya Kreasi dan Imajinasinya (Creative immagination)
4. Meningkatkan
akhlak mulia anak-anak (Noble attitude)
Fokuslah
kepada 4 hal tersebut selama mendampingi anak-anak belajar. Buatlah pengamatan
secara periodik, apakah rasa ingin tahunya naik bersama kita/selama di sekolah?
Apakah kreasi dan imajinasinya berkembang dengan bagus selama bersama kita
/selama di sekolah? Apakah anak-anak suka menemukan hal baru, dan keluar Aha!
Moment( teriakan “Aha! Aku tahu sekarang” atau ekspresi lain yang menunjukkan
kebinaran matanya) selama belajar? Apakah dengan semakin banyaknya ilmu yang
anak-anak dapatkan di rumah/di sekolah semakin meningkatkan akhlak mulianya?
Setelah
memahami tujuan anak-anak belajar baru kita memasuki tahapan-tahapan memahami
berbagai gaya belajar anak-anak. Gaya belajar dapat menentukan prestasi belajar
anak. Jika diberikan strategi yang sesuai dengan gaya belajarnya, anak dapat
berkembang dengan lebih baik. Gaya belajar otomatis tergantung dari orang yang
belajar. Artinya, setiap orang mempunyai gaya belajar yang berbeda-beda.
Modalitas
belajar adalah cara informasi masuk ke dalam otak melalui indra yang kita
miliki.
Tiga macam modalitas belajar anak:
Auditory : modalitas ini
mengakses segala macam bunyi, suara, musik, nada, irama, cerita, dialog, dan
pemahaman materi pelajaran dengan menjawab atau mendengarkan lagu, syair, dan
hal-hal lain yang terkait.
Visual: modalitas ini mengakses citra
visual, warna, gambar, catatan, tabel diagram, grafik, serta peta pikiran, dan
hal-hal lain yang terkait.
Kinestetik: modalitas ini mengakses
segala jenis gerak, aktifitas tubuh, emosi, koordinasi, dan hal-hal lain yang
terkait.
Mari kita
pahami gaya belajar tersebut secara detil, kita pahami ciri-cirinya dan
bagaimana strategi kita untuk mendampingi anak-anak dengan gaya belajarnya
masing-masing.
GAYA BELAJAR VISUAL (Belajar dengan
cara melihat)
Lirikan keatas
bila berbicara, berbicara dengan cepat. Bagi anak yang bergaya belajar visual,
mata / penglihatan (visual) memegang peranan penting dalam belajar, dalam hal
ini metode pengajaran yang digunakan ibu/guru sebaiknya lebih banyak /
dititikberatkan pada peragaan/media, ajak mereka ke obyek-obyek yang berkaitan
dengan pelajaran tersebut, atau dengan cara menunjukkan alat peraganya langsung
pada siswa atau menggambarkannya di papan tulis.
Anak yang
mempunyai gaya belajar visual harus melihat bahasa tubuh dan ekspresi muka
gurunya/ibunya untuk mengerti materi pelajaran. Mereka cenderung untuk duduk di
depan agar dapat melihat dengan jelas. Mereka berpikir menggunakan
gambar-gambar di otak mereka dan belajar lebih cepat dengan menggunakan
tampilan-tampilan visual, seperti diagram, buku pelajaran bergambar, dan video.
Ciri-ciri gaya
belajar visual:
π· Bicara agak cepat
π· Mementingkan penampilan dalam berpakaian/presentasi
π· Tidak mudah terganggu oleh keributan
π· Mengingat yang dilihat, dari pada yang didengar
π· Lebih suka membaca dari pada dibacakan
π· Pembaca cepat dan tekun
π· Seringkali mengetahui apa yang harus dikatakan, tapi tidak
pandai memilih kata-kata
π· Lebih suka melakukan demonstrasi dari pada pidato
π· Lebih suka musik
π· Mempunyai masalah untuk mengingat
instruksi verbal kecuali jika ditulis, dan seringkali minta bantuan orang untuk
mengulanginya.
Strategi untuk
mempermudah proses belajar anak visual:
π Gunakan materi visual seperti, gambar-gambar, diagram dan
peta.
π Gunakan warna untuk menghilite hal-hal penting.
π Ajak anak untuk membaca buku-buku berilustrasi.
π Gunakan multi-media (contohnya: komputer dan video).
π Ajak anak untuk mencoba mengilustrasikan ide-idenya ke dalam
gambar.
GAYA BELAJAR AUDITORI (Belajar dengan
cara mendengar)
Lirikan
kekiri/kekanan mendatar bila berbicara. Anak yang bertipe auditori mengandalkan
kesuksesan belajarnya melalui telinga (alat pendengarannya), untuk itu maka
ibu/ guru sebaiknya harus memperhatikan siswa/anaknya hingga ke alat
pendengarannya. Anak yang mempunyai gaya belajar auditori dapat belajar lebih
cepat dengan menggunakan diskusi verbal dan mendengarkan apa yang guru/ibu
katakan.
Anak auditori
dapat mencerna makna yang disampaikan melalui tone suara, pitch (tinggi
rendahnya), kecepatan berbicara dan hal-hal auditori lainnya. Informasi
tertulis terkadang mempunyai makna yang minim bagi anak auditori dibandingkan
dengan mendengarkannya.
Anak-anak
seperi ini biasanya dapat menghafal lebih cepat dengan membaca teks dengan
keras dan mendengarkan kaset.
Ciri-ciri gaya
belajar auditori :
π· Saat bekerja suka bicara kepada diri sendiri
π· Penampilan rapi
π· Mudah terganggu oleh keributan
π· Belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang
didiskusikan dari pada yang dilihat
π· Senang membaca dengan keras dan mendengarkan
π· Menggerakkan bibir mereka dan mengucapkan tulisan di buku
ketika membaca
π· Biasanya ia pembicara yang fasih
π· Lebih pandai mengeja dengan keras daripada menuliskannya
π· Lebih suka gurauan lisan daripada membaca komik
π· Mempunyai masalah dengan pekerjaan-pekerjaan yang melibatkan
Visual
π· Berbicara dalam irama yang terpola
π· Dapat mengulangi kembali dan menirukan nada, berirama dan
warna suara
Strategi untuk mempermudah proses belajar
anak auditori :
π Ajak anak untuk ikut berpartisipasi dalam diskusi baik di
dalam kelas maupun di dalam keluarga.
π Dorong anak untuk membaca materi pelajaran dengan keras.
π Gunakan musik untuk mengajarkan anak.
π Diskusikan ide dengan anak secara verbal.
π Biarkan anak merekam materi pelajarannya ke dalam kaset dan
dorong dia untuk mendengarkannya sebelum tidur.
GAYA BELAJAR KINESTETIK (belajar dengan
cara bergerak, bekerja dan menyentuh)
Lirikan
kebawah bila berbicara, berbicara lebih lambat. Anak yang mempunyai gaya
belajar kinestetik belajar melalui bergerak, menyentuh, dan melakukan. Anak
seperti ini sulit untuk duduk diam berjam-jam karena keinginan mereka untuk
beraktifitas dan eksplorasi sangatlah kuat. Anak yang bergaya belajar ini
belajarnya melalui gerak dan sentuhan
Ciri-ciri gaya
belajar kinestetik :
π· Berbicara perlahan
π· Penampilan rapo
π· Tidak terlalu mudah terganggu dengan situasi keributan
π· Belajar melalui memanipulasi dan praktek
π· Menghafal dengan cara berjalan dan melihat
π· Menggunakan jari sebagai petunjuk ketika membaca
π· Merasa kesulitan untuk menulis tetapi hebat dalam bercerita
π· Menyukai buku-buku dan mereka mencerminkan aksi dengan
gerakan tubuh saat membaca
π· Menyukai permainan yang menyibukkan
π· Tidak dapat mengingat geografi, kecuali jika mereka memang
pernah berada di tempat itu
π· Menyentuh orang untuk mendapatkan perhatian mereka
Menggunakan kata-kata yang mengandung aksi.
Strategi untuk mempermudah proses belajar
anak kinestetik:
π Jangan paksakan anak untuk belajar sampai berjam-jam.
π Ajak anak untuk belajar sambil mengeksplorasi lingkungannya
(contohnya: ajak dia baca sambil bersepeda, gunakan obyek sesungguhnya untuk
belajar konsep baru).
π Izinkan anak untuk mengunyah permen karet pada saat belajar.
π Gunakan warna terang untuk menghilite hal-hal penting dalam
bacaan.
π Izinkan anak untuk belajar sambil mendengarkan musik
Ketika belajar
memahami anak-anak, sejatinya kita sedang belajar memahami diri kita sendiri.
Apabila bunda semuanya bisa melihat gaya belajar anak-anak karena sering
mengamati perkembangan mereka, maka kitapun akan dengan mudah mengamati gaya
belajar kita, gaya mengajar kita dan gaya bekerja kita.
Hal ini akan
lebih membuat kita bahagia menjalankan proses belajar. Dijamin proses belajar
juga tidak akan pernah berhenti dari buaian sampai ke liang lahat.
Anak-anak
sangat menyukai bermain, karena energi yang dimunculkan ketika bermain tidak
akan pernah habis. Apabila kita bisa memaknai belajar dan bekerja selayaknya
anak-anak bermain, sudah dapat dibayangkan betapa asyiknya belajar dan bekerja
dalam kehidupan ini. Karena setiap saat anak-anak akan menemukan energi yang
terbarukan dalam proses belajarnya dan kita akan mendapatkan energi yang
terbarukan dalam proses bekerja.
Don’t Teach me
, I Love to Learn
Salam Ibu
Profesional,
/Tim
Fasilitator Bunda Sayang/
πSumber
Bacaan:
Gordon Dryden
and JeanetteVos, The Learning Revolution, ISBN-13: 978-1929284009
Niken Tf
Alimah, dkk. 2017. Seri Ibu Profesional #1 Bunda Sayang 12 Ilmu Dasar Mendidik
Anak, Gazza Media
ditulis ulang dengan sedikit editan oleh: Heny Ratri Estiningtyas