Talk about sibling rivalry, Itu adalah pekerjaan panjang dan gak mudah kan ya buibu. Saya termasuk salah satu pejuangnya. Sebagai anak pertama yang punya adek dan adeknya merasa: bapak ibu lebih sayang sama mbak/mas daripada sama aku. Bapak ibu selalu memperlakukan beda, mbak boleh kalau aku enggak. Dan sebagainya. Adalah drama yang insyaallah sudah pernah terlewati dan sudah berakhir ya adek2 tercinta @nunky Rizka dan @violeta. Kita sekarang sudah paham bahwa ortu kita sudah sangat berusaha menjadi ortu seadil mungkin, jikalau keterimanya di kita ternyata berbeda insyaallah sekarang sudah bisa memahami ya bahwa itu sama sekali bukan niat mereka. Setelah menjadi ortu, kita jadi paham seperti apa rasanya. Tapi ketika menjadi anak, memang rasanya susah sekali mengerti.
Dari kejadian-kejadian seperti ini, sejak tahu bahwa saya hamil anak kedua, saya banyak sekali belajar dan mempersiapkan diri untuk menjadi ortu dua anak. Bagaimana menyikapi kecemburuan kakak/adek dan bagaimana memenuhi kebutuhan keduanya tanpa ada yang merasa dikesampingkan.
MaasyaAllaah atas pertolongan Allaah, Saya termasuk ortu yang tidak terlalu bekerja keras dalam menghadapi sibling rivalry di masa egosentris ini. Berikut saya rangkumkan beberapa tips yang saya lakukan dan masalah yang saya hadapi ya:
- Perkenalkan kakak akan kehadiran calon adeknya. Memberitahu kakak bahwa sedang ada calon adek di perut ibunya merupakan salah satu cara mengenalkan adek ke kakaknya. Melibatkan kakak dalam setiap excitement pertumbuhan calon adeknya, seperti ketika adeknya menendang di perut, mengajak ngobrol adeknya, memberitahu adek bahwa kakak bisa melakukan sesuatu, mengajak kakak periksa ke dokter dan melihat USG.
- Tidak menjadikan adeknya sebagai alasan untuk tidak menggendong. Memiliki anak berjarak dekat memang tantangan besar ya. Misal ketika kakak masih ada pada masa2 minta gendong, ibunya sedang hamil besar, maka kalau memang kuat dan bisa, gendonglah kakak sejauh itu tidak membahayakan. Jangan sampai penolakan itu hanya karna sekedar menghindari rasa males atau capek aja. Tapi ketika memang kondisi tidak memungkinkan, tawarkan sentuhan lain, misal pelukan? Pijatan? But please don't say: ibu gak bisa gendong karna ada adek bayi di perut ibu, kasihan nanti adek bayinya kegencet gimana? Are you sure adek bayi akan benar2 kegencet? Insyaallah dia aman kok mom di dalam kantong rahim, itu kondisi paling aman dia di dalam sana dari benturan dan semacamnya. Membahayakan ibunya mungkin justru lebih masuk akal ya, jadi boleh lah bilang: ibu sedang sakit pinggang belakang ini kak, maafkan ibu sedang tidak bisa menggendong, kalau kakak capek, ibu pijit aja gimana? Kakak pengen peluk ya? Sini ibu peluk sambil duduk ya...bisa sekalian peluk adek bayiii...
- Ketika ibu melahirkan, mintalah support system until membantu. Thanks Tante Vita yang udah ngajak kakak jalan2 ke bawah ketika merengek minta masuk ke ruang bersalin. Dan terimakasih bapak ibu mertua yang menghandle si kakak secara penuh ketika ibunya, abinya dan Kakung itunya yang lain gak bisa bantu handle karna Tante Kiki pun sama2 sedang melahirkan.
- Jangan memisahkan kakak dengan adek barunya sekalipun ada support sistem dan ibunya rempong. Hadapi kerempongan mu Mak. Menitipkan kakak ke ortu/mertua bukan pilihan yang bijak menurut saya. Sekalipun ada yang bisa handle, tapi kakak adek ini haruslah juga membangun cinta. Berkenalan satu sama lain, saling menyentuh, saling memandang, saling mendengar, saling bicara. Dengan berkegiatan bersama pasti akan tumbuh benih-benih cinta.
- Positif thinking. Stop thinking that your bigger son will harm his brother. Fitrah anak2 itu baik. So don't say: jangan nakalin adeknya ya ,Jangan culek matanya dong. Kalau saya amati, dia cuma excited, sama seperti kita. Hanya saja dia belum tau caranya menyentuh dengan lembut, belum tau batasannya kalau begini menyakiti dan lainnya. Untuk itu, kasih tau lah. Kakak pengen sayang2 adek ya? Gini nih sayangnya, adek seneng ya kalau disayang begini sama kakak? Boleh sih pakai kata jangan tapi usahakan dengan penjelasan. Kalau saya menghindari memperkenalkan kosakata judgmental, Misal nakal, culek, pukul, cakar. Apa iya dia berniat menyakiti adeknya? I'm not sure lho. Hargai usahanya untuk menyenangkan adeknya/ibunya. Kalau melakukan hal yang bahaya gimana? Misalnya lompat2 di dekat adeknya yang lagi tidur? Memang harus responsif sih kalau ini. Mungkinkah dia pengen menghibur adeknya? Ataukah mau caper sama ibunya? Kalau mau caper sama ibunya, artinya ibu harus ngajak dia main. Tapi kalau mau menghibur adeknya, ajak main juga dengan cara yang lebih aman. Alihkan kegiatan lompat2 itu dengan mengayun2kan adeknya di bouncher misalnya. Lalu bagaimana kalau pas tidak dipengawasan kita? Misalnya waktu ditinggal mandi? Kalau saya memang selalu mandi kalau pas ada yang datang. Jadi suka aji mumpung kalau bintik datang ke rumah. Atau poop yang tak terelakkan, ya nitip ke tantenya atau kasih kakaknya kesibukan. Rempong ya? Iya memang, tapi berbuah manis insyaallah. Ini kasus kalau terjadi pas suami kerj Aya buibu. Kalau pas ada suami sih semua kerempongan itu sirna seketika. Point' positif thinking ini agak sulit memang karna masih sering keceplosan. But there's nothing impossible.
- Utamakan sang kakak. Ini teori kebanyakan yang memang bener banget. Si adek kan butuhnya baru basic need ya, nenen mandi pipis poop. Jadi selain itu masih banyak tidur, solo manfaatkan waktu buat main sama kakak. Trus kalau pas nenenin adeknya kakaknya minta main? Biasanya dia merasa excited juga lho kalau liat adeknya nenen, perilaku nenen adeknya, tangannya, pegang2 kakinya, lihat caranya ngenyot, tanda kalau adeknya udah kenyang, minta tolong gelitikin kakinya adeknya kalau adeknya ketiduran padahal nenennya belum kosong, dll itu digambarkan dan diceritakan aja sambil cerita kakak dulu juga nenen, begini perilakunya. Dibikin seru aja.
- Lalu kalau adeknya udah mulai gede dan mulai gak bisa dicuekin, gimana? Ini aku bicara cara ibu menangani ya, kalau pas gak ada ayah. Jadi kalau ada ayahnya, beres semua urusan. Bisa berbagi peran seperti misal kalau mau tidur, makan, mandi, si kakak kan masih butuh bantuan ya secara waktu itu kakak umur 2 tahun 2 bulan ketika adeknya lahir. Tapi kalau pas sendirian di rumah kan PR banget nih. Nah caranya adalah menempatkan kakak sebagai role model buat adeknya. Kakak tuh udah pasti deh kayaknya punya jiwa ingin mengajari kan ya, biarkan dia tunjukkan caranya dia. Kalau adeknya punya cara lain, kita ajarkan ke adeknya untuk melihat cara kakak dulu dan beri kesempatan adeknya nanti untuk memberi tahu caranya dia sendiri dan saling memahami satu sama lain. Weits...terdengar bijak dan gampang banget ya. Preeeet. Nyatanya susah meeen. Si kakak pasti akan bersikeras memakai caranya dan akan ngamuk kalau adeknya tidak melakukan hal yang sama dan adeknya bersikeras untuk melakukan dengan caranya sendiri. Kalau dibiarkan, Saya sempat khawatir kalau adeknya merasa terintimidasi dan merasa tidak merdeka, tapi kalau distop saya juga khawatir kalau kakaknya jadi ciut hatinya dan merasa kita memihak. So gimana kalau udah gitu? Gini dialognya: adek, kita lihat caranya kakak dulu yuk, nanti adek kasih lihat caranya adek ya...ini sekalian ngajarin adeknya menghormati kakaknya yang lebih tua. Dan ketika sang adek menunjukkan caranya yang lain: sekarang giliran adek, kalau adek gimana caranya? Waaaah ternyata begitu juga bisa ya? Dan ini diulang2 terus. Gak cuma sekali tapi mungkin bahkan sampai ratusan kali sampai akhirnya bisa saling menerima cara masing2
- Pembagian barang yang jelas. Punya dua balita di dalam satu rumah itu nano nano rasanya Mak. Dua2nya akan bertemu pada satu masa egosentris yang berbarengan. Apakah artinya harus diberikan hal yang satu satu sendiri2? Jawabannya, Tidak selalu. Kadang satu barang yang dipakai bersama itu bisa mengajarkan anak untuk berinteraksi sosial. Yang penting jelas pembagiannya. Mana barang kakak, mana barang adek, mana barang bersama2. Dan ketika kakak mau memakai punya adek, harus ijin, begitu juga sebaliknya. Kalau gak diijinkan, sarana belajar untuk bersabar, antri dan menahan keinginan. Beraaaaat, tapi seru.
- Bagaimana jika terjadi kecemburuan? Sebenernya ini hampir tidak mungkin dihindari sih. Kami pun mengalaminya, dan yang kami lakukan adalah re-bonding. Ini sangat butuh kekompakan dan kerjasama dengan suami. Saya dan suami mengatur waktu agar bisa kencan berdua dengan anak2 kami. Satu hari saya sama si kakak ngedate, suami dengan si adek. Dan di hari lain, tukeran. Dan ini menurut kami sangat efektif. Ketika mulai ada tanda2 kecemburuan, berkencanlah. Main seru2an bareng, berdua aja. Penuhi tangki cinta mereka.
- Berusaha seadil mungkin. Adil itu tidak harus sama, menurut saya adil itu sesuai kebutuhan. Misal nih, kakaknya pengen beli mainan yang harganya 100rb. Terus adeknya pengen beli mainan juga yang ternyata pas dia milih sendiri, dia milih yang harganya 30rb. Coba tawarkan mainan lain yang harganya senilai, tapi kalau memang dianya gak mau ya gakpapa. Karena itu pilihan masing2.
Alhamdulillah sejauh ini, mereka bisa menghargai perbedaan cara dan pilihan satu sama lain. Tapi pekerjaan ini masih belum selesai. Issue sibling rivalry masih tetap membayangi, jadi singsingkan lengan, kencangkan ikat pinggang dan terus semangat!
Sekali lagi ini cara saya dalam menghadapi anak2 saya, tapi setiap anak itu unik. Saya percaya setiap ibu sudah dibekali dengan insting keibuan dengan kemampuan membaca keunikah anak2nya masing2. Jadi jika ada yang merasa sesuai dengan cara saya silakan diterapkan jikalau tidak, janganlah dijadikan panduan.
Sekali lagi ini cara saya dalam menghadapi anak2 saya, tapi setiap anak itu unik. Saya percaya setiap ibu sudah dibekali dengan insting keibuan dengan kemampuan membaca keunikah anak2nya masing2. Jadi jika ada yang merasa sesuai dengan cara saya silakan diterapkan jikalau tidak, janganlah dijadikan panduan.
Tidak ada ibu yang tidak sempurna di dunia ini. Semua ibu adalah ibu terbaik buat anak2nya.
Semua atas ijin dan pertolongan Allaah. Semangat ya Mak...jangan lupa tetep berdoa minta kepada Allaah agar diberi kemudahan. Yuk berpelukan.
#spiritfajrfamily
#thekurniasstory
#nurturingfamily
Kamphaeng Saen, Thailand Oktober 2019
Kamphaeng Saen, Thailand Oktober 2019