Friday, October 18, 2019

Sibling rivalry vs sibling harmony

Talk about sibling rivalry, Itu adalah pekerjaan panjang dan gak mudah kan ya buibu. Saya termasuk salah satu pejuangnya. Sebagai anak pertama yang punya adek dan adeknya merasa: bapak ibu lebih sayang sama mbak/mas daripada sama aku. Bapak ibu selalu memperlakukan beda, mbak boleh kalau aku enggak. Dan sebagainya. Adalah drama yang insyaallah sudah pernah terlewati dan sudah berakhir ya adek2 tercinta @nunky Rizka dan @violeta. Kita sekarang sudah paham bahwa ortu kita sudah sangat berusaha menjadi ortu seadil mungkin, jikalau keterimanya di kita ternyata berbeda insyaallah sekarang sudah bisa memahami ya bahwa itu sama sekali bukan niat mereka. Setelah menjadi ortu, kita jadi paham seperti apa rasanya. Tapi ketika menjadi anak, memang rasanya susah sekali mengerti. 

Dari kejadian-kejadian seperti ini, sejak tahu bahwa saya hamil anak kedua, saya banyak sekali belajar dan mempersiapkan diri untuk menjadi ortu dua anak. Bagaimana menyikapi kecemburuan kakak/adek dan bagaimana memenuhi kebutuhan keduanya tanpa ada yang merasa dikesampingkan. 

MaasyaAllaah atas pertolongan Allaah, Saya termasuk ortu yang tidak terlalu bekerja keras dalam menghadapi sibling rivalry di masa egosentris ini. Berikut saya rangkumkan beberapa tips yang saya lakukan dan masalah yang saya hadapi ya:
  1. Perkenalkan kakak akan kehadiran calon adeknya. Memberitahu kakak bahwa sedang ada calon adek di perut ibunya merupakan salah satu cara mengenalkan adek ke kakaknya. Melibatkan kakak dalam setiap excitement pertumbuhan calon adeknya, seperti ketika adeknya menendang di perut, mengajak ngobrol adeknya, memberitahu adek bahwa kakak bisa melakukan sesuatu, mengajak kakak periksa ke dokter dan melihat USG.
  2. Tidak menjadikan adeknya sebagai alasan untuk tidak menggendong. Memiliki anak berjarak dekat memang tantangan besar ya. Misal ketika kakak masih ada pada masa2 minta gendong, ibunya sedang hamil besar, maka kalau memang kuat dan bisa, gendonglah kakak sejauh itu tidak membahayakan. Jangan sampai penolakan itu hanya karna sekedar menghindari rasa males atau capek aja. Tapi ketika memang kondisi tidak memungkinkan, tawarkan sentuhan lain, misal pelukan? Pijatan? But please don't say: ibu gak bisa gendong karna ada adek bayi di perut ibu, kasihan nanti adek bayinya kegencet gimana? Are you sure adek bayi akan benar2 kegencet? Insyaallah dia aman kok mom di dalam kantong rahim, itu kondisi paling aman dia di dalam sana dari benturan dan semacamnya. Membahayakan ibunya mungkin justru lebih masuk akal ya, jadi boleh lah bilang: ibu sedang sakit pinggang belakang ini kak, maafkan ibu sedang tidak bisa menggendong, kalau kakak capek, ibu pijit aja gimana? Kakak pengen peluk ya? Sini ibu peluk sambil duduk ya...bisa sekalian peluk adek bayiii...
  3. Ketika ibu melahirkan, mintalah support system until membantu. Thanks Tante Vita yang udah ngajak kakak jalan2 ke bawah ketika merengek minta masuk ke ruang bersalin. Dan terimakasih bapak ibu mertua yang menghandle si kakak secara penuh ketika ibunya, abinya dan Kakung itunya yang lain gak bisa bantu handle karna Tante Kiki pun sama2 sedang melahirkan.
  4. Jangan memisahkan kakak dengan adek barunya sekalipun ada support sistem dan ibunya rempong. Hadapi kerempongan mu Mak. Menitipkan kakak ke ortu/mertua bukan pilihan yang bijak menurut saya. Sekalipun ada yang bisa handle, tapi kakak adek ini haruslah juga membangun cinta. Berkenalan satu sama lain, saling menyentuh, saling memandang, saling mendengar, saling bicara. Dengan berkegiatan bersama pasti akan tumbuh benih-benih cinta.
  5. Positif thinking. Stop thinking that your bigger son will harm his brother. Fitrah anak2 itu baik. So don't say: jangan nakalin adeknya ya ,Jangan culek matanya dong.  Kalau saya amati, dia cuma excited, sama seperti kita. Hanya saja dia belum tau caranya menyentuh dengan lembut, belum tau batasannya kalau begini menyakiti dan lainnya. Untuk itu, kasih tau lah. Kakak pengen sayang2 adek ya? Gini nih sayangnya, adek seneng ya kalau disayang begini sama kakak? Boleh sih pakai kata jangan tapi usahakan dengan penjelasan. Kalau saya menghindari memperkenalkan kosakata judgmental, Misal nakal, culek, pukul, cakar. Apa iya dia berniat menyakiti adeknya? I'm not sure lho. Hargai usahanya untuk menyenangkan adeknya/ibunya. Kalau melakukan hal yang bahaya gimana? Misalnya lompat2 di dekat adeknya yang lagi tidur? Memang harus responsif sih kalau ini. Mungkinkah dia pengen menghibur adeknya? Ataukah mau caper sama ibunya? Kalau mau caper sama ibunya, artinya ibu harus ngajak dia main. Tapi kalau mau menghibur adeknya, ajak main juga dengan cara yang lebih aman. Alihkan kegiatan lompat2 itu dengan mengayun2kan adeknya di bouncher misalnya. Lalu bagaimana kalau pas tidak dipengawasan kita? Misalnya waktu ditinggal mandi? Kalau saya memang selalu mandi kalau pas ada yang datang. Jadi suka aji mumpung kalau bintik datang ke rumah. Atau poop yang tak terelakkan, ya nitip ke tantenya atau kasih kakaknya kesibukan. Rempong ya? Iya memang, tapi berbuah manis insyaallah. Ini kasus kalau terjadi pas suami kerj Aya buibu. Kalau pas ada suami sih semua kerempongan itu sirna seketika. Point' positif thinking ini agak sulit memang karna masih sering keceplosan. But there's nothing impossible.
  6. Utamakan sang kakak. Ini teori kebanyakan yang memang bener banget. Si adek kan butuhnya baru basic need ya, nenen mandi pipis poop. Jadi selain itu masih banyak tidur, solo manfaatkan waktu buat main sama kakak. Trus kalau pas nenenin adeknya kakaknya minta main? Biasanya dia merasa excited juga lho kalau liat adeknya nenen, perilaku nenen adeknya, tangannya, pegang2 kakinya, lihat caranya ngenyot, tanda kalau adeknya udah kenyang, minta tolong gelitikin kakinya adeknya kalau adeknya ketiduran padahal nenennya belum kosong, dll itu digambarkan dan diceritakan aja sambil cerita kakak dulu juga nenen, begini perilakunya. Dibikin seru aja.
  7. Lalu kalau adeknya udah mulai gede dan mulai gak bisa dicuekin, gimana? Ini aku bicara cara ibu menangani ya, kalau pas gak ada ayah. Jadi kalau ada ayahnya, beres semua urusan. Bisa berbagi peran seperti misal kalau mau tidur, makan, mandi, si kakak kan masih butuh bantuan ya secara waktu itu kakak umur 2 tahun 2 bulan ketika adeknya lahir. Tapi kalau pas sendirian di rumah kan PR banget nih. Nah caranya adalah menempatkan kakak sebagai role model buat adeknya. Kakak tuh udah pasti deh kayaknya punya jiwa ingin mengajari kan ya, biarkan dia tunjukkan caranya dia. Kalau adeknya punya cara lain, kita ajarkan ke adeknya untuk melihat cara kakak dulu dan beri kesempatan adeknya nanti untuk memberi tahu caranya dia sendiri dan saling memahami satu sama lain. Weits...terdengar bijak dan gampang banget ya. Preeeet. Nyatanya susah meeen. Si kakak pasti akan bersikeras memakai caranya dan akan ngamuk kalau adeknya tidak melakukan hal yang sama dan adeknya bersikeras untuk melakukan dengan caranya sendiri. Kalau dibiarkan, Saya sempat khawatir kalau adeknya merasa terintimidasi dan merasa tidak merdeka, tapi kalau distop saya juga khawatir kalau kakaknya jadi ciut hatinya dan merasa kita memihak. So gimana kalau udah gitu? Gini dialognya: adek, kita lihat caranya kakak dulu yuk, nanti adek kasih lihat caranya adek ya...ini sekalian ngajarin adeknya menghormati kakaknya yang lebih tua. Dan ketika sang adek menunjukkan caranya yang lain: sekarang giliran adek, kalau adek gimana caranya? Waaaah ternyata begitu juga bisa ya? Dan ini diulang2 terus. Gak cuma sekali tapi mungkin bahkan sampai ratusan kali sampai akhirnya bisa saling menerima cara masing2
  8. Pembagian barang yang jelas. Punya dua balita di dalam satu rumah itu nano nano rasanya Mak. Dua2nya akan bertemu pada satu masa egosentris yang berbarengan. Apakah artinya harus diberikan hal yang satu satu sendiri2? Jawabannya, Tidak selalu. Kadang satu barang yang dipakai bersama itu bisa mengajarkan anak untuk berinteraksi sosial. Yang penting jelas pembagiannya. Mana barang kakak, mana barang adek, mana barang bersama2. Dan ketika kakak mau memakai punya adek, harus ijin, begitu juga sebaliknya. Kalau gak diijinkan, sarana belajar untuk bersabar, antri dan menahan keinginan. Beraaaaat, tapi seru.
  9. Bagaimana jika terjadi kecemburuan? Sebenernya ini hampir tidak mungkin dihindari sih. Kami pun mengalaminya, dan yang kami lakukan adalah re-bonding. Ini sangat butuh kekompakan dan kerjasama dengan suami. Saya dan suami mengatur waktu agar bisa kencan berdua dengan anak2 kami. Satu hari saya sama si kakak ngedate, suami dengan si adek. Dan di hari lain, tukeran. Dan ini menurut kami sangat efektif. Ketika mulai ada tanda2 kecemburuan, berkencanlah. Main seru2an bareng, berdua aja. Penuhi tangki cinta mereka.
  10. Berusaha seadil mungkin. Adil itu tidak harus sama, menurut saya adil itu sesuai kebutuhan. Misal nih, kakaknya pengen beli mainan yang harganya 100rb. Terus adeknya pengen beli mainan juga yang ternyata pas dia milih sendiri, dia milih yang harganya 30rb. Coba tawarkan mainan lain yang harganya senilai, tapi kalau memang dianya gak mau ya gakpapa. Karena itu pilihan masing2. 
Alhamdulillah sejauh ini, mereka bisa menghargai perbedaan cara dan pilihan satu sama lain. Tapi pekerjaan ini masih belum selesai.  Issue sibling rivalry masih tetap membayangi, jadi singsingkan lengan, kencangkan ikat pinggang dan terus semangat! 

Sekali lagi ini cara saya dalam menghadapi anak2 saya, tapi setiap anak itu unik. Saya percaya setiap ibu sudah dibekali dengan insting keibuan dengan kemampuan membaca keunikah anak2nya masing2. Jadi jika ada yang merasa sesuai dengan cara saya silakan diterapkan jikalau tidak, janganlah dijadikan panduan.

Tidak ada ibu yang tidak sempurna di dunia ini. Semua ibu adalah ibu terbaik buat anak2nya.
Semua atas ijin dan pertolongan Allaah. Semangat ya Mak...jangan lupa tetep berdoa minta kepada Allaah agar diberi kemudahan. Yuk berpelukan. 

#spiritfajrfamily
#thekurniasstory
#nurturingfamily
Kamphaeng Saen, Thailand Oktober 2019

Monday, March 4, 2019

When trending on social media encourage you to write

Pardon,,
Nyempil bentar ya...

Talk about Maudy Ayunda



Lagi rame banget kan ya Maudy Ayunda yang habis lulus Oxford di jurusan favorit udah langsung ketrima di Harvard sama Stanford sekaligus!
It's like to tell you, kamu mau sombong? Udah kayak Maudy belom?? Hahahaha

Nah kutergerak untuk visiting her pages. And I get a lot of words to my sons! Nah Kan baru gitu aja udah ketularan nginggris wkwkwkwk

Jadi to be a successful person, there are so many things you can do but the point is, KAMU HARUS TAU DAN YAKIN APA YANG INGIN KAMU CAPAI DAN APA YANG HARUS KAMU LAKUKAN UNTUK MENCAPAINYA. Point' out your dreams, and break it down to be a small one that will bring you to a bigger dreams. tau dulu maunya apa. Lalu lakukan dengan serius. Ini soal mindset ya. Jadi benerin dulu mindsetnya. Kalau punya keinginan dan mimpi, tulis dan jangan berfikir bahwa itu impossible. Cause in every impossible things there always be a possible way!

Beberapa hal yang mungkin bisa mendukung pencapaian sukses itu misalnya: 
  1. membuat diri selalu dikelilingi orang2 yang high energy, berteman dengan orang2 yang selalu bertumbuh, having some conversation with smart people etc. Mungkin itu akan bisa keeps you on your dream path. Ini penting karena dalam proses pencapaian mimpi sukses itu kan pasti ada masa2 low energy ya. Jadi keep on connecting with people! But sometimes butuh juga sih deeply looking inside yourself, talking and listening to your heart what really you need. Jadi intinya point ini adalah: SUROUNDED BY PEOPLE ya. Nah how the way to get those people ini mungkin bisa dapet dari point' 2
  2. Ok, number two is you need to join some community that bring you to meet many people. Ini mungkin seperti sekolah, course, or joining some foundation kali ya. Dan ini yang harus diseriusi. Jangan ragu. Bukan masalah sekolah ditempat favoritnya banyak orang yang mahal dan banyak programnya atau joining a lot of class sih ya. Ya bisa siiih ini mendukung juga. Buktinya yang sekolah di Oxford, Harvard, dan Stanford udah pasti punya pemikiran dan intelegensi yang tinggi kan? Dan sekolah2 macam itu sudah pasti punya habit lecturing yang beda dong ya sama yang biasa2 aja. Itu totally make them so outstanding. So jangan ragu juga deh buat bisa pilih sekolah yang kredible. Tapi yang terpenting adalah harus pinter milih kelas, sekolah atau komunitas yang bisa connecting you to your dream. I mean orang2 atau lesson learn di dalamnya harus satu pathway sama pemikiran kita. Karena yang terpenting di usia ini mungkin lebih ke apa yang bisa dipelajari kan ya. So if you have a lot of money, you can join anything you think you need like sekolah di international school, cause you know money can buy a lot of things. But if you're not, don't think about money, just do it. You can grab it by your way! ALLAAH Maha Kaya!!
  3. Next, passionate? Mungkin ini yang paling penting ya. Passionate dulu. Dan untuk tau am I able to do it? Am I really want to do it? Am I passionate about it? You must try much things first. Ya gimana kita bisa tau suka gambar atau enggak kalau belum cobain menggambar kan ya. So don't hesitate, just try and try. Kalau dalam perjalanan menemukan passion itu kamu Bosenan, Gonta ganti bidang, I think, it's ok till you find something you know you really want to do.
  4. Terakhir, kamu tau apa yang kamu lakukan. As simple as it!



Dan, kesuksesan itu bukan diraih dengan ijazah. Kalau kamu kebetulan sekolah ditempat favorit dan sempat lulus beberapa degree, lalu kamu sukses di jalanmu, aku yakin kamu sukses karena kamu tau  bagaimana cara belajar dan kamu mempelajari banyak hal di sana. Bukan karena ijazahmu saja. Ok,so keep on growing dan selamat berbahagia menyambut suksesmu!

Khampaeng saen
2019

Tuesday, February 5, 2019

New beginning life jurney

Never imagine before part #3

Kamphaeng Saen, 6th February 2019
Day 17

Thailand was never in my List!!

Seperti Jogja, Thailand tidak pernah masuk daftar tempat tinggal. Tapi sungguh, nikmat Allah yang mana lagi yang kau dustakan?

Pernah ke sini 7 tahun yang lalu dan tak pernah terbersit bakalan ke sini lagi. Waktu itu sih niatnya cuma jalan2 berkedok study banding.

Hello Kasetsart University! We meet again, in different way, at different place, on different jurney with different people but still with me!
Let's see what can we play together?

Waktu itu awal Agustus, lupa tanggal berapa tepatnya. Si mamas bilang: Bun ada kabar baik dan kabar buruk, mau yang mana dulu?
Kujawab: mana aja yang menurut mamas gak bikin aku jantungan. Lalu dia bercerita bahwa Kasetsart University setuju untuk mengeluarkan LOA dan kampus tempat dia kerja bersedia membiayainya. Alhamdulillah! What a great news!!
Great news nya adalah akhirnya suami aku menentukan mau kemana dan ada yang bayarin!! Itu paling penting dong buat emak2 pencari gratisan. Karena selama ini daftar sana sini dari ujung Eropa sampai ujung new Zealand kendalanya cuma: siapa yang mau bayarin? Kampus ok, promotor ok tapi yang bayarin kagak ada. Mundur lah kami. Akhirnya setelah sekian lama menempatkan KU di prioritas yang ke sekian, Alhamdulillah insyaallah memang ini jalannya.

Lalu bad news nya apa? Mamas harus sampai KU tanggal 11. Ok, 11. Eh 11 apa? Agustus!! FIX, HIDUPKU TIDAK PERNAH SEMENANTANG INI SEBELUM JADI ISTRIMU, MAS! Resikoooo banget nih dijodohkan sama lelaki yang suka spontanitas, mendadak dan go with the flow. Tantangan banget sama eike yang apa2 serba direncanakan ditulis kemungkinan2nya dan dipersiapkan tetek-bengek nya… oh my...untung saya gak jantungan bener ini.

Lalu kemudian kami mulai disibukkan dengan segala persiapan. Persiapan buat yang mau berangkat dan buat yang mau ditinggal. And when the day come, bersyukur banget mertua bisa Dateng buat nganter ke bandara. Kalau enggak, entahlah gimana aku handle diri sendiri. Anak2 sih kayaknya akan baik2 saja di bandara karena udah sering nganter ke bandara kalau pas ditinggal DL. Dan sepertinya mereka pun masih belum paham betul durasi lama yang kami maksud itu sepanjang apa waktunya. But me? I just can hold my breath for a while, and recalling his words: I know you can! But it's draining when I hear your plane was taking off. Padahal ya belum tentu pesawat dia juga yang berangkat...hahahaha. setidaknya ada yang handle anak2 ketika kuterlarut dalam sepi, heleh.

Waktu itu yang kupikirkan adalah: aku di sini banyak temen banyak sodara, buanyaaaak tempat escape yang aku udah paham betul medannya. Lha dia, dia harus berjuang dari nol daaan sendirian Bray! Ok sooo kita sedang berjuang bersama2 ya. Dan drama pun dimulai.

Masa2 paling berat adalah bulan2 pertama sih. Selebihnya udah mulai Nemu polanya dan mulai bisa enjoying the day. Udah sampai di sini dulu ah. Cerita drama LDM akan ditulis di blog selanjutnya ya, mangke Ndak muntah2 nek kekathahen. Ini aja udah kepanjangan. Hehehe. Pardon!

See you at Drama LDM